batampos - Pemerintah Mali mengambil langkah tegas dalam menghadapi ancaman keamanan yang terus meningkat dengan melarang penggunaan sepeda motor berkapasitas 125 cc atau lebih di luar wilayah perkotaan utama.
Kebijakan tersebut diumumkan sebagai bagian dari upaya membatasi mobilitas kelompok bersenjata yang aktif di sejumlah wilayah negara. Pemerintah juga menghentikan sementara impor, distribusi, pemasaran, dan penjualan motor kategori tersebut selama satu tahun.
Otoritas Mali menilai kendaraan jenis itu kerap dimanfaatkan kelompok militan untuk bergerak cepat di wilayah terpencil dan melancarkan serangan terhadap pasukan keamanan maupun infrastruktur publik. Langkah tersebut diambil ketika situasi keamanan Mali terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan jaringan Al-Qaeda dan organisasi ekstremis lainnya memperluas operasi mereka dari wilayah utara dan tengah menuju daerah yang lebih dekat ke ibu kota Bamako.
Serangan terhadap pangkalan militer, jalur logistik, serta koridor ekonomi utama semakin sering terjadi. Kelompok Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) dikabarkan melancarkan serangkaian serangan terkoordinasi di berbagai wilayah Mali.
Baca Juga: Topan Jangmi Landa Jepang, 23 Orang Terluka dan Ribuan Sekolah Ditutup
Kelompok juga mengancam memblokade akses menuju Bamako yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan bahan bakar dan distribusi barang kebutuhan pokok.
Sepeda motor telah lama menjadi alat transportasi utama kelompok militan di kawasan Sahel karena mampu menjangkau medan yang sulit dilalui kendaraan besar.
Mobilitas tinggi inilah yang membuat pemerintah Mali berupaya membatasi peredarannya di luar pusat - pusat perkotaan. Namun, kebijakan menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat pedesaan.
Di banyak daerah Mali, sepeda motor merupakan sarana transportasi utama untuk bekerja, berdagang, hingga mengakses layanan kesehatan.
Sejumlah pihak menilai pemerintah perlu memastikan bahwa pembatasan keamanan tidak mengganggu aktivitas ekonomi dan kebutuhan dasar warga.
Mali saat ini masih menghadapi tantangan besar terkait stabilitas keamanan. Berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa serangan kelompok bersenjata, konflik antarkomunitas, dan gangguan terhadap jalur transportasi terus memengaruhi kehidupan masyarakat di berbagai wilayah negara tersebut.(*)
Editor : Juliana Belence