Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Grok AI Masuk Medan Perang, Pentagon Sebut Bantu Serangan ke 2.000 Target Iran

Juliana Belence • Jumat, 19 Juni 2026 | 10:15 WIB
Pentagon Grok AI digunakan dalam menyerang Iran. (x.com/ferozwala)
Pentagon Grok AI digunakan dalam menyerang Iran. (x.com/ferozwala)

batampos - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam operasi militer kembali menjadi sorotan setelah Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengungkap keterlibatan Grok dalam operasi militer terhadap Iran.

Informasi tersebut terungkap melalui dokumen hukum yang diajukan pemerintah Amerika Serikat dalam sebuah kasus terkait fasilitas pusat data xAI. Pentagon menyatakan bahwa teknologi berbasis Grok telah membantu mempercepat proses analisis intelijen dan penargetan militer. 

Sistem digunakan melalui platform Maven Smart Systems (MSS), bagian dari Project Maven yang selama ini dikenal sebagai program AI militer AS untuk pengolahan data dan identifikasi target.

"Sistem yang menggunakan model khusus bernama “Grok Gov Model” memungkinkan pasukan AS mengerahkan lebih dari 2.000 amunisi ke 2.000 target berbeda hanya dalam waktu 96 jam selama operasi militer yang dikenal sebagai Operation Epic Fury," ujar Kepala AI Pentagon, Cameron Stanley, dikutip dari The Indian Express, Jumat (19/6).

Pentagon menyebut teknologi meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan. Pengungkapan ini menjadi kali pertama pemerintah AS secara resmi mengakui penggunaan Grok dalam operasi militer yang bersifat mematikan.

Baca Juga: Rolex dan Alpen Swiss, Perpaduan Kemewahan dan Panorama Spektakuler di Butik Tertinggi Dunia

Militer Amerika Serikat diketahui menggunakan model AI lain untuk mendukung analisis intelijen dan perencanaan operasi. Namun, keterlibatan Grok dalam proses penargetan menandai langkah baru dalam integrasi AI ke medan perang modern.

Pentagon menekankan bahwa penggunaan AI meningkatkan kecepatan dan efektivitas operasi, tetapi kabar ini memicu perdebatan mengenai peran kecerdasan buatan dalam pengambilan keputusan militer. 

Sejumlah pengamat menyoroti risiko kesalahan identifikasi target, transparansi proses penargetan, serta potensi dampaknya terhadap warga sipil di wilayah konflik.

Kontroversi juga muncul karena informasi mengenai penggunaan Grok terungkap melalui gugatan terhadap fasilitas data xAI di Tennessee. 

Pemerintah Amerika Serikat berargumen bahwa pusat data memiliki nilai strategis bagi keamanan nasional karena mendukung infrastruktur AI yang digunakan dalam operasi pertahanan.

Para analis menilai perkembangan ini dapat menjadi titik balik dalam cara negara - negara besar memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendukung strategi dan operasi perang di masa depan.(*)

Editor : Juliana Belence
#pentagon #amerika serikat #AI #Grok #iran