Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Fenomena Tak Biasa di Prancis, Permintaan AC Meledak saat Suhu Tembus 42 Derajat

Juliana Belence • Jumat, 26 Juni 2026 | 10:15 WIB
Permintaan AC meningkat di Prancis. (Freepik)
Permintaan AC meningkat di Prancis. (Freepik)

batampos - Gelombang panas yang menyelimuti Prancis tidak hanya memecahkan rekor suhu, tetapi mengubah kebiasaan masyarakat. Prancis dikenal minim penggunaan pendingin ruangan (AC) dengan banyaknya warga berbondong - bondong membeli dan memasang AC untuk menghadapi cuaca yang semakin menyengat.

Fenomena tersebut menjadi sorotan karena bertolak belakang dengan budaya masyarakat Prancis yang selama puluhan tahun cenderung mengandalkan ventilasi alami, tirai, dan bangunan berdinding tebal untuk menjaga suhu ruangan tetap sejuk.

Kondisi ini membuat banyak warga yang sebelumnya enggan menggunakan pendingin ruangan akhirnya memilih memasangnya demi menjaga kenyamanan dan kesehatan keluarga. Gelombang panas yang menyelimuti Eropa pada Juni 2026 menjadi salah satu yang terparah dalam sejarah.

"Indikator suhu nasional mencapai rekor baru, termasuk Paris, mengalami suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya pada bulan Juni," tulis data Badan meteorologi Prancis, Météo-France, dikutip dari Reuters, Jumat (26/6).

Pada Juni 2026, suhu rata - rata nasional Prancis mencapai 29,8 derajat Celsius, tertinggi sejak pencatatan nasional dimulai pada 1947. Di beberapa wilayah suhu bahkan diperkirakan menyentuh 41 - 42 derajat Celsius.

Baca Juga: Ratusan Bangkai Kapal Ditemukan di Gibraltar, Ungkap Jejak Perdagangan dan Perang Selama 2.400 Tahun

Samsung melaporkan penjualan AC di Prancis, Italia, dan Spanyol tumbuh dua digit. LG menyebut pabriknya telah beroperasi dengan kapasitas penuh sejak April untuk memenuhi lonjakan permintaan. 

Bahkan unit AC portabel milik Midea dilaporkan habis terjual di sejumlah pasar Eropa. Fenomena tersebut menjadi perubahan besar bagi masyarakat Prancis yang selama puluhan tahun relatif tidak bergantung pada pendingin ruangan.

Kepemilikan AC di Eropa masih tergolong rendah karena iklim musim panas sebelumnya lebih sejuk, harga listrik yang tinggi, serta budaya yang menganggap AC kurang ramah lingkungan. 

Banyak bangunan tua di Prancis juga tidak dirancang untuk pemasangan sistem pendingin modern. Proses renovasi membutuhkan biaya besar dan sering terkendala aturan konservasi bangunan, sehingga pemasangan AC tidak semudah di negara lain. 

Para ilmuwan menilai meningkatnya frekuensi gelombang panas merupakan dampak perubahan iklim. 

Eropa diketahui mengalami laju pemanasan lebih dari dua kali rata - rata global. Kebutuhan akan sistem pendingin diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.(*)

Editor : Juliana Belence
#gelombang panas #prancis #budaya #ac #fenomena