Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kacamata Pintar AI Meta Masih Dibayangi Isu Privasi, Ini Strateginya

j
Penulis: jpg❯
Andrew Bosworth, Chief Technology Officer (CTO) Meta, berbicara kepada media mengenai kacamata pintar terbaru Meta tanpa merek Ray-Ban / Foto: (Gizmodo)
Andrew Bosworth, Chief Technology Officer (CTO) Meta, berbicara kepada media mengenai kacamata pintar terbaru Meta tanpa merek Ray-Ban / Foto: (Gizmodo)

Advertisement

batampos – Meta terus memperkuat ambisinya di pasar perangkat wearable dengan menjadikan kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) sebagai salah satu calon pengganti fungsi ponsel di masa depan. Namun, langkah tersebut juga memunculkan tantangan baru, terutama terkait isu privasi di ruang publik.

Dalam peluncuran lini terbaru kacamata pintarnya, Meta memang tidak menghadirkan perubahan besar dari sisi perangkat keras. Namun, perusahaan mengambil langkah strategis dengan tidak lagi menonjolkan merek Ray-Ban, yang sebelumnya menjadi identitas utama produk tersebut.

Perubahan ini dinilai bukan sekadar penyegaran merek, melainkan bagian dari strategi Meta untuk membangun identitas produknya sendiri di pasar perangkat AI.

Advertisement

Di balik strategi tersebut, persoalan privasi tetap menjadi perhatian utama. Selama ini Meta kerap mendapat sorotan terkait pengelolaan data pengguna, termasuk potensi penggunaan teknologi pengenalan wajah serta kemampuan perangkat merekam aktivitas di sekitar pengguna tanpa sepengetahuan orang lain.

Chief Technology Officer (CTO) Meta, Andrew Bosworth, menilai penerimaan masyarakat terhadap teknologi baru akan terbentuk melalui proses yang disebutnya sebagai social learning atau pembelajaran sosial.

"Saya masih ingat ketika dulu ada kontroversi soal ponsel yang punya kamera. Itu bahkan terjadi sebelum era smartphone seperti sekarang," ujar Bosworth, seperti dikutip dari Gizmodo.

Advertisement

Ia menambahkan bahwa masyarakat pada akhirnya akan beradaptasi dengan kehadiran teknologi baru selama perusahaan bersikap terbuka mengenai fungsi perangkat yang digunakan.

"Ada proses pembelajaran sosial yang harus terjadi. Kacamata ini memiliki daya tarik luas dan digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Kami berusaha sangat terbuka mengenai apa yang bisa dilakukan perangkat ini, serta memastikan bukan hanya pengguna, tetapi juga orang-orang di sekitar mereka merasa nyaman," katanya.

Pendekatan tersebut menunjukkan Meta lebih mengandalkan terbentuknya norma sosial dibandingkan pembatasan teknis yang ketat dalam mengatur penggunaan perangkat.

Meski demikian, pendekatan ini masih memunculkan perdebatan. Pengalaman Google Glass, misalnya, menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak selalu diterima masyarakat ketika dinilai mengancam privasi di ruang publik.

Advertisement
Editor : Jamil Qasim

Artikel Terkait

Shanghai Fair 2026: Indonesia dan Tiongkok Jajaki Kerja Sama di 5 Sektor

Shanghai Fair 2026: Indonesia dan Tiongkok Jajaki Kerja Sama di 5 Sektor

Indonesia dan Tiongkok menjajaki kerja sama di lima sektor potensial melalui Shanghai Fair 2026 di Jakarta pada 11–12 November.

AI Harus Memperkuat Manusia, Bukan Menggantikan Perannya

AI Harus Memperkuat Manusia, Bukan Menggantikan Perannya

PM China Li Qiang menegaskan AI harus memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan peran atau mengendalikan kehidupan manusia.

IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Hong Kong 2026 Jadi 3,8 Persen

IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Hong Kong 2026 Jadi 3,8 Persen

IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Hong Kong menjadi 3,8 persen pada 2026, di tengah perlambatan ekonomi global dan pesatnya AI.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer