Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

ASEAN Kian Rentan Gelombang Panas, Cuaca Ekstrem Bisa Berlangsung Berbulan - Bulan

Juliana Belence • Selasa, 30 Juni 2026 | 18:15 WIB
Ilustrasi perempuan sedang kepanasan saat berada di luar ruangan. (Freepik)
Ilustrasi perempuan sedang kepanasan saat berada di luar ruangan. (Freepik)

batampos - Negara - negara di kawasan Asia Tenggara menghadapi ancaman yang semakin serius akibat meningkatnya suhu global. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa wilayah ASEAN menjadi salah satu kawasan yang paling rentan mengalami gelombang panas ekstrem dengan kondisi panas dan lembap yang dapat bertahan selama berbulan - bulan setiap tahun.

Para peneliti menggunakan indikator wet-bulb temperature, yaitu ukuran yang menggabungkan suhu udara dan kelembapan untuk mengetahui kemampuan tubuh manusia mendinginkan diri melalui penguapan keringat. 

Ketika nilai wet-bulb meningkat, tubuh menjadi lebih sulit melepaskan panas sehingga risiko kelelahan akibat panas (heat exhaustion), heat stroke, hingga kematian ikut meningkat.

"Asia Tenggara berpotensi menghadapi kondisi yang semakin panas pada paruh kedua 2026 seiring meningkatnya peluang terbentuknya El Niño," tulis laporan ASEAN Climate Outlook yang diterbitkan di bawah koordinasi World Meteorological Organization (WMO), dikutip dari WMO, Selasa (30/6).

Kawasan tropis yang lembap seperti Asia Tenggara mengalami peningkatan jumlah hari dengan kondisi panas berbahaya lebih cepat dibanding banyak wilayah lain di dunia. 

Baca Juga: Bandara Jepang Raih Penghargaan Internasional, Haneda Masuk Daftar Bandara Terbaik Dunia

Negara - negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Filipina, Kamboja, Laos, dan Myanmar dinilai sangat rentan karena memiliki suhu tinggi yang dipadukan dengan kelembapan udara yang juga tinggi sepanjang tahun.

Panas ekstrem yang berlangsung dalam waktu lama diperkirakan akan membawa dampak luas. Dari sisi kesehatan, kelompok rentan seperti lansia, anak - anak, ibu hamil, dan pekerja luar ruangan menghadapi risiko paling besar mengalami gangguan akibat panas. 

Di sektor ekonomi, produktivitas tenaga kerja dapat menurun, sementara konsumsi listrik diperkirakan meningkat karena penggunaan pendingin ruangan yang lebih intensif. 

Fenomena tersebut berpotensi memperparah cuaca panas dan mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah ASEAN, meski dampaknya dapat berbeda di setiap negara.

ASEAN Centre for Energy dalam kajian mengenai perlindungan terhadap panas ekstrem menyebut kawasan ASEAN mengalami tren pemanasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Para ahli menilai pemerintah di kawasan perlu memperkuat sistem peringatan dini gelombang panas, memperluas ruang hijau perkotaan, meningkatkan perlindungan bagi pekerja yang beraktivitas di luar ruangan, serta menyesuaikan infrastruktur agar lebih tahan terhadap suhu tinggi.(*)

Editor : Juliana Belence
#ekstrem #suhu global #ancaman #asia tenggara #panas