batampos – Banjir besar yang melanda wilayah Guangxi, Tiongkok, akibat hujan ekstrem yang dipicu Topan Mesak membuat sejumlah daerah mengalami pemadaman listrik. Di tengah kondisi darurat tersebut, mobil listrik atau New Energy Vehicle (NEV) justru menjadi penyelamat bagi warga untuk tetap terhubung dan memenuhi kebutuhan listrik.
Para pemilik mobil listrik memanfaatkan teknologi Vehicle-to-Load (V2L) untuk menyalurkan energi dari baterai kendaraan ke berbagai perangkat elektronik. Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah mengisi daya ponsel agar masyarakat tetap dapat berkomunikasi dengan keluarga maupun tim penyelamat.
Baca Juga: BI Optimistis Inflasi Kepri Terkendali, Ekonomi Tetap Tumbuh di Atas Nasional
Media Southern Metropolis Daily melaporkan, sejumlah pemilik NEV menjadikan kendaraan mereka sebagai sumber listrik bergerak. Di beberapa lokasi, warga bahkan terlihat mengantre di sekitar mobil listrik untuk mengisi daya perangkat komunikasi selama listrik padam.
Salah satu video yang beredar memperlihatkan warga berkumpul di sekitar mobil listrik Geely EX2 atau dikenal sebagai Xingyuan di pasar Tiongkok untuk mendapatkan akses listrik.
Selain itu, sejumlah pemilik kendaraan listrik merek BYD juga membentuk konvoi sukarelawan untuk mengirimkan bantuan serta kebutuhan pokok kepada masyarakat terdampak banjir.
Baca Juga: DPRD Batam Dukung RT RW Dilibatkan Tingkatkan Kepatuhan Pajak Kendaraan
Teknologi V2L Jadi Andalan Saat Krisis
Kemampuan mobil listrik memasok listrik ke perangkat eksternal berasal dari teknologi Vehicle-to-Load (V2L). Teknologi ini memungkinkan energi yang tersimpan dalam baterai kendaraan dialirkan kembali menjadi listrik arus bolak-balik (AC) untuk digunakan di luar kendaraan.
Sistem tersebut bekerja melalui on-board charger (OBC) dua arah atau bi-directional charger. Komponen ini tidak hanya mengubah listrik AC menjadi DC saat pengisian baterai, tetapi juga mampu mengubah listrik DC dari baterai menjadi AC untuk kebutuhan eksternal.
Dengan teknologi tersebut, mobil listrik dapat berfungsi layaknya generator portabel. Pengguna cukup menghubungkan kabel atau perangkat listrik melalui port V2L untuk memperoleh sumber daya.
Beberapa kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) dan extended-range electric vehicle (EREV) bahkan telah dilengkapi fitur mode berkemah (camping mode) yang memungkinkan kendaraan memasok listrik dalam waktu lama saat berhenti.
Satu Mobil Bisa Isi Puluhan Ponsel
Pemanfaatan mobil listrik sebagai sumber energi darurat sebenarnya bukan hal baru di Tiongkok. Teknologi serupa pernah digunakan saat banjir besar di Provinsi Henan pada 2021.
Saat itu, satu mobil listrik mampu menjadi sumber listrik bagi sekitar 20 hingga 30 ponsel sekaligus melalui sambungan kabel ekstensi. Namun, penggunaan kabel tambahan tetap harus memperhatikan faktor keamanan agar tidak menimbulkan risiko kelistrikan.
Seiring meningkatnya jumlah kendaraan listrik, peran mobil listrik sebagai sumber energi darurat diperkirakan akan semakin besar ketika terjadi bencana alam.
Data China EV DataTracker mencatat, pada Juni 2026 sekitar 62,9 persen kendaraan baru yang terjual di Tiongkok merupakan kendaraan energi baru (NEV).
Sebagian besar mobil listrik di Tiongkok telah memiliki kemampuan V2L dengan daya hingga 6,6 kW. Sementara beberapa model seperti Geely EX2 dan sejumlah kendaraan BYD DM-i menawarkan kapasitas sekitar 3,3 kW.
Salah satu kendaraan dengan kemampuan V2L terbesar adalah Geely Riddara RD6, pikap listrik yang diklaim mampu menyediakan daya AC tiga fase hingga 36 kW untuk mendukung kebutuhan peralatan listrik berdaya besar. (*)
Editor : Jamil Qasim