batampos - Meningkatnya ketegangan keamanan di Selat Hormuz membuat sejumlah perusahaan pelayaran mengambil langkah yang tidak biasa. Banyak kapal - kapal menolak menerima pengawalan militer Amerika Serikat (AS) dan menunda perjalanan karena khawatir menjadi sasaran serangan.
Keputusan tersebut muncul setelah serangkaian serangan terhadap kapal dagang di kawasan Teluk dalam beberapa pekan terakhir. Operator kapal menilai bahwa berlayar bersama kapal perang AS berpotensi membuat kapal dagang lebih mudah dikenali dan menjadi target serangan.
Sejumlah perusahaan lebih memilih menunda pelayaran atau mengatur ulang jadwal keberangkatan dibanding mengambil risiko yang lebih besar.
Militer Amerika Serikat telah mengerahkan kapal perang, helikopter, dan pesawat nirawak untuk mengawal lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Serangan terhadap kapal komersial masih terus terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Ada lima kapal tanker minyak mentah dan kapal pengangkut gas alam cair (LNG) diserang sejak Selasa (7/7). Serangan - serangan tersebut sebagian besar terjadi di perairan Oman, sehingga memunculkan keraguan terhadap efektivitas skema pengawalan yang ditawarkan Amerika Serikat.
Baca Juga: AS Gempur Puluhan Target Militer Iran di Dekat Selat Hormuz, Operasi Berlangsung Tujuh Jam
Situasi keamanan yang memburuk membuat Angkatan Laut Amerika Serikat menaikkan tingkat ancaman di kawasan menjadi kategori parah. Otoritas maritim Yunani telah mengeluarkan imbauan kepada perusahaan pelayaran untuk mempertimbangkan penundaan perjalanan menuju kawasan hingga kondisi lebih aman.
Selat Hormuz memiliki peran strategis bagi perdagangan global karena menjadi jalur utama pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di wilayah ini dikhawatirkan dapat memengaruhi rantai pasok energi internasional dan memicu kenaikan harga minyak.
Analis keamanan maritim menilai menjaga keamanan Selat Hormuz bukan perkara mudah. Pengawalan kapal membutuhkan sumber daya militer yang sangat besar dan tetap tidak dapat menjamin kapal komersial terbebas dari ancaman.
Bahkan operasi pengawalan dinilai berisiko memicu eskalasi konflik yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran. Perusahaan pelayaran terus memantau perkembangan situasi di kawasan sebelum memutuskan apakah akan tetap melintasi Selat Hormuz, menunda perjalanan, atau mencari rute alternatif demi menjamin keselamatan awak kapal dan muatan.(*)
Editor : Juliana Belence