batampos – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat tajam setelah Washington memperluas sasaran serangan udara ke berbagai infrastruktur strategis Iran. Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan ke sejumlah negara sekutu AS di kawasan Timur Tengah, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik regional.
Memasuki hari ketujuh pertempuran, militer AS dilaporkan menyerang sejumlah jembatan, pelabuhan, fasilitas energi, hingga bandara di wilayah selatan Iran. Eskalasi tersebut turut memperburuk situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.
Infrastruktur Strategis Jadi Sasaran
Media pemerintah Iran melaporkan serangan udara AS menghantam sejumlah jembatan di Provinsi Hormozgan yang menjadi jalur utama menuju Pelabuhan Bandar Abbas. Sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.
AS juga menyerang Pelabuhan Chabahar di Teluk Oman dan merobohkan sebuah menara yang menurut militer AS digunakan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk mendukung operasi terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Selain itu, fasilitas kelistrikan dan Bandara Iranshahr turut menjadi sasaran serangan.
Akibat kerusakan pada infrastruktur energi, Kementerian Energi Iran mengimbau masyarakat mengurangi konsumsi listrik dan penggunaan pendingin udara di tengah gelombang panas yang melanda wilayah selatan negara tersebut.
Korban Bertambah
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, menyebut sedikitnya 38 orang tewas dan lebih dari 400 orang terluka akibat gelombang serangan terbaru.
Sejumlah pakar hukum internasional juga mengingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil yang tidak memiliki fungsi militer dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum perang.
Serangan terbaru disebut merupakan bagian dari perluasan operasi militer yang diperintahkan Presiden AS Donald Trump setelah kesepakatan sementara terkait Selat Hormuz runtuh dan kembali memicu konfrontasi terbuka antara kedua negara.
Iran Balas Serang Sekutu AS
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania.
Di Qatar, otoritas setempat melaporkan seorang anak terluka akibat serpihan rudal yang berhasil dicegat sistem pertahanan udara.
Sementara di Kuwait, serangan dilaporkan merusak fasilitas pembangkit listrik dan instalasi desalinasi air yang menjadi sumber utama pasokan air bersih negara tersebut.
Iran juga mengklaim menyerang pangkalan militer Al-Tanf di Suriah, meski klaim tersebut dibantah oleh pemerintah Suriah. Selain itu, serangan di wilayah Kurdistan Irak dilaporkan menewaskan delapan anggota kelompok oposisi Kurdi bersenjata.
Ancam Jalur Energi Global
Di tengah meningkatnya konflik, Iran dilaporkan meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap mengganggu jalur distribusi minyak melalui Laut Merah apabila AS terus menyerang infrastruktur energi Iran.
Langkah tersebut berpotensi memperluas gangguan terhadap rantai pasok energi global yang sebelumnya telah terdampak akibat menurunnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Situasi yang terus memanas mendorong kekhawatiran komunitas internasional akan meluasnya perang di Timur Tengah, sekaligus meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan energi dunia. (*)
Editor : Jamil Qasim