batampos - Otoritas kesehatan Kota New York tengah berpacu mengendalikan penyebaran Legionnaires disease setelah wabah penyakit menewaskan tiga orang dan menginfeksi 74 warga.
Kasus yang berpusat di kawasan Upper East Side, Manhattan, memicu penyelidikan intensif terhadap fasilitas - fasilitas yang diduga menjadi sumber penyebaran bakteri.
"Sebagian besar pasien yang terinfeksi mengalami gejala pneumonia berat dan membutuhkan perawatan medis. Lebih dari 59 pasien sempat dirawat di rumah sakit," ujar Departemen Kesehatan Kota New York (NYC Health), dikutip dari New York Post, Senin (20/7).
Penyakit Legionnaires merupakan infeksi paru - paru serius yang disebabkan oleh bakteri Legionella. Bakteri berkembang biak di lingkungan berair hangat, seperti cooling tower (menara pendingin), sistem pendingin udara gedung bertingkat, tangki air panas, hingga jaringan perpipaan tertentu.
Penyakit ini menyebar melalui tetesan air yang terkontaminasi dan tidak menular dari manusia ke manusia. Otoritas kesehatan memeriksa lebih dari 180 cooling tower di wilayah terdampak.
Baca Juga: Skandal eFishery Meluas, KPK Malaysia Usut Investasi Dana Pensiun KWAP
Hasil pemeriksaan menemukan bakteri Legionella di 76 cooling tower, termasuk yang berada di apartemen, gedung perkantoran, sekolah, museum, dan bangunan komersial lainnya.
Seluruh bangunan yang dinyatakan positif diwajibkan melakukan pembersihan dan disinfeksi sesuai ketentuan pemerintah kota. Pejabat kesehatan meyakini langkah pembersihan berhasil mengurangi paparan bakteri. Hal itu terlihat dari penurunan signifikan jumlah kasus baru dalam beberapa hari terakhir dibandingkan awal Juli.
"Perkembangan terbaru menunjukkan wabah mulai terkendali," kata Komisioner Kesehatan New York, Dr. Alister F. Martin, dikutip dari New York Post.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), gejala penyakit Legionnaires biasanya muncul dalam waktu 2 hingga 14 hari setelah seseorang menghirup uap air yang mengandung bakteri. Gejalanya meliputi demam tinggi, batuk, sesak napas, nyeri otot, sakit kepala, dan pada beberapa kasus dapat disertai diare.
Kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi berat adalah lansia, perokok, penderita penyakit paru kronis, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Pemerintah kota tetap melanjutkan inspeksi terhadap fasilitas pendingin air dan memastikan seluruh pemilik gedung mematuhi aturan kesehatan guna mencegah penyebaran lebih lanjut.
Wabah ini menjadi pengingat bahwa sistem pendingin air di gedung - gedung besar memerlukan pengawasan ketat.(*)
Editor : Juliana Belence