CDC Amerika Serikat Uji Kesiapsiagaan Penanganan Wabah DBD Lewat Simulasi PHEOC di Indonesia

Chahaya Simanjuntak • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 08:30 WIB
Suasana tabletop exercise (TTX) oleh CDC AS dengan menggandeng Kemenkes RI dalam penanggulangan wabah DBD di UI, Jakarta beberapa waktu lalu. F Kedubes AS di Jakarta untuk Batam Pos
Suasana tabletop exercise (TTX) oleh CDC AS dengan menggandeng Kemenkes RI dalam penanggulangan wabah DBD di UI, Jakarta beberapa waktu lalu. F Kedubes AS di Jakarta untuk Batam Pos

Batampos - Pusat Kontrol dan Penanggulangan Kesehatan (CDC) Amerika Serikat (AS) menguji kesiapan penanganan wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia dengan menggelar tabletop exercise di Universitas Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kegiatan ini menggandeng Kemenkes RI untuk menguji implementasi Prosedur Tetap (Protap) Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) dalam penanganan wabah DBD ini

Kegiatan ini diikuti 60 peserta yang berasal dari Jawa Barat dan Sulawesi Barat yang terdiri atas tenaga kesehatan puskesmas dan rumah sakit, laboratorium kesehatan masyarakat, Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK), serta perwakilan ASEAN BioDiaspora Virtual Center (ABVC).

Baca Juga: Jembatan Penghubung Pelabuhan Tanjungbatu Jatuh ke Laut, KSOP Siapkan Dermaga Alternatif

Simulasi ini bertujuan menguji efektivitas penerapan Protap PHEOC melalui skenario penanganan wabah penyakit endemik. Hasil latihan diharapkan menjadi dasar penyusunan rekomendasi untuk memperkuat implementasi Protap PHEOC sekaligus meningkatkan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi kedaruratan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Selama pelaksanaan TTX, peserta menjalani simulasi siklus respons kedaruratan secara menyeluruh. Tahapan yang diuji meliputi deteksi dini, verifikasi kejadian, analisis situasi, penilaian risiko secara cepat, koordinasi teknis lintas sektor, hingga pengelolaan sumber daya dan respons penanggulangan wabah.

Wakil Direktur CDC di Indonesia, Ken Chen, mengatakan kesiapsiagaan merupakan langkah paling efektif untuk mencegah wabah berkembang menjadi pandemi global. Menurutnya, pemahaman terhadap fungsi-fungsi utama dalam penanganan kedaruratan harus terus diperkuat.

Baca Juga: Karimun Krisis Listrik, Pemadaman hingga Puluhan Jam

“Memperkuat pemahaman kita atas fungsi-fungsi kunci, terutama dalam hal koordinasi, komunikasi, pengambilan keputusan, dan deteksi dini, sangat penting untuk memastikan kesiapan saat menghadapi kedaruratan kesehatan masyarakat,” ujar Ken Chen.

Sementara itu, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, Dr. Sumarjaya, menegaskan Protap PHEOC bukan sekadar dokumen administratif, melainkan instrumen operasional yang harus diuji secara berkala melalui latihan dan simulasi.

“Melalui kegiatan TTX ini, kami ingin memastikan setiap prosedur dapat dijalankan secara efektif saat menghadapi situasi kedaruratan yang nyata. Simulasi menjadi tahapan penting untuk mengidentifikasi kekuatan sistem, tantangan yang masih dihadapi, serta peluang meningkatkan kapasitas di masa mendatang,” katanya.

Kementerian Kesehatan dan CDC Amerika Serikat terus memperkuat kerja sama dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kedaruratan kesehatan masyarakat. Dukungan yang diberikan mencakup pelatihan tim gerak cepat, penguatan Emergency Operations Center (EOC), serta peningkatan kapasitas respons agar penanganan krisis kesehatan dapat dilakukan secara cepat, terkoordinasi, dan efektif.

"Kolaborasi ini diharapkan semakin memperkuat ketahanan Indonesia dalam menghadapi ancaman penyakit menular di masa depan," ujar Ken. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
CDC Kemenkes RI penanggulangan DBD demam berdarah