batampos — Rencana sejumlah perusahaan teknologi raksasa membangun pusat data di luar angkasa mulai menuai penolakan. Ambisi perusahaan milik Elon Musk dan Jeff Bezos untuk menempatkan pusat pengolahan data di orbit Bumi dinilai berpotensi menghadirkan persoalan baru, mulai dari polusi atmosfer hingga ancaman terhadap lingkungan antariksa.
Proyek tersebut digagas sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan komputasi yang terus meningkat, terutama akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI). Dengan menempatkan pusat data di luar angkasa, perusahaan teknologi berharap dapat mengoptimalkan penggunaan energi serta memperluas kapasitas pemrosesan data.
Namun, para ilmuwan dan kelompok pemerhati lingkungan menilai rencana tersebut menyimpan risiko besar yang belum dikaji secara menyeluruh. Mereka khawatir peningkatan jumlah satelit dalam skala jutaan unit justru menciptakan krisis baru di orbit Bumi.
Baca Juga: Inggris Siagakan Militer Hadapi Ancaman Iran
Dilansir dari The Guardian, Sabtu (25/7/2026), organisasi Public Employees for Environmental Responsibility (PEER), Earthjustice, dan DarkSky International telah mengajukan petisi kepada Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat agar menunda penerbitan izin baru bagi proyek pusat data antariksa.
Ketiga organisasi tersebut menilai proyek itu berpotensi melanggar aturan lingkungan federal karena belum melalui kajian dampak yang komprehensif. Menurut mereka, perusahaan teknologi selama ini lebih banyak menonjolkan potensi revolusi teknologi tanpa menjelaskan risiko ekologis yang mungkin muncul.
Dalam petisinya, mereka menyebut perusahaan-perusahaan tersebut menggambarkan proyek pusat data antariksa sebagai langkah besar bagi masa depan manusia, tetapi belum memberikan kajian mendalam mengenai dampaknya terhadap lingkungan, ilmu pengetahuan, ekonomi, maupun keberlanjutan ruang angkasa.
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah dampak polusi akibat aktivitas peluncuran roket serta pembakaran satelit ketika memasuki kembali atmosfer Bumi.
Baca Juga: PPATK Blokir 5.762 Rekening Judi Online, Dana Capai Rp1,07 Triliun
Proses tersebut dapat menghasilkan berbagai zat pencemar, termasuk jelaga hitam, logam tanah jarang, aluminium oksida, merkuri, nitrogen oksida, karbon monoksida, hingga gas klorin. Para ilmuwan memperingatkan, akumulasi zat-zat tersebut di lapisan atmosfer atas berpotensi mengganggu lapisan ozon, meningkatkan paparan radiasi ultraviolet, serta memperburuk perubahan iklim.
Selain ancaman terhadap atmosfer, peningkatan jumlah satelit juga memunculkan kekhawatiran mengenai polusi cahaya yang dapat mengganggu pengamatan astronomi dan mengubah kondisi langit malam.
Direktur Eksekutif DarkSky International, Ruskin Hartley, mengatakan proyek-proyek tersebut berpotensi mengubah tampilan langit malam secara permanen.
"Proyek-proyek ini dapat mengubah langit malam secara permanen sebagaimana yang kita kenal. FCC harus menjalankan kewajibannya secara serius untuk memastikan proyek-proyek ini tidak menimbulkan kerusakan yang tidak perlu terhadap langit malam yang alami," ujarnya.
Baca Juga: Horoskop Akhir Pekan: Saatnya Berani Bicara dan Menata Prioritas
Kekhawatiran lain datang dari mantan Kepala Kantor Satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Steve Volz. Ia mempertanyakan dampak limbah material satelit yang nantinya kembali masuk ke atmosfer.
Menurutnya, material kompleks yang digunakan dalam satelit tidak seharusnya dianggap hilang begitu saja ketika terbakar saat memasuki atmosfer.
"Benda-benda ini mengandung banyak material yang kompleks. Sekalipun terbakar saat kembali ke atmosfer, kita tentu tidak ingin memenuhi atmosfer dengan limbah dari satelit-satelit itu," katanya.
Sementara itu, mantan pakar kebijakan antariksa NOAA, Cole Donovan, menyoroti kebutuhan besar terhadap bahan baku untuk membangun ribuan hingga jutaan satelit. Menurutnya, persoalan lingkungan tidak hanya terjadi di orbit, tetapi juga sejak tahap penambangan material di Bumi.
Baca Juga: Pengamat: KPK Berpeluang Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
Penggunaan logam tanah jarang dan berbagai sumber daya mineral lainnya dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap lingkungan serta memperpanjang rantai dampak industri antariksa.
Jumlah satelit yang mengorbit Bumi memang mengalami peningkatan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2015, jumlah satelit aktif tercatat sekitar 1.400 unit. Kini jumlah tersebut telah meningkat menjadi sekitar 15.000 satelit.
Dalam satu dekade mendatang, jumlah satelit diperkirakan dapat mencapai 100.000 unit, belum termasuk rencana pembangunan jaringan pusat data antariksa. Sebagian besar peningkatan tersebut berasal dari konstelasi satelit internet seperti Starlink milik SpaceX dan jaringan satelit Amazon.
Para pengkritik juga menilai perusahaan teknologi belum memberikan penjelasan rinci mengenai strategi mitigasi dampak lingkungan. SpaceX sebelumnya menyatakan proyeknya bertujuan mendukung masa depan manusia sebagai spesies multi-planet, namun langkah pengurangan dampak seperti tingkat kecerahan satelit dinilai belum cukup menjawab kekhawatiran publik.
Baca Juga: Venezuela Mundur Dari Mahkamah Pidana Internasional
Karena itu, kelompok pemerhati lingkungan meminta FCC melakukan kajian lebih ketat sebelum memberikan izin. Mereka menilai keberadaan jutaan satelit di orbit Bumi harus dipertimbangkan secara hati-hati agar inovasi teknologi tidak menimbulkan kerusakan lingkungan yang sulit dipulihkan. (*)
Editor : M Tahang