Trump Respons Sorotan Kesehatan Mental Awak USS Abraham Lincoln

JawaPos • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:29 WIB
Ilustrasi USS Abraham Lincoln. (Mehr News)
Ilustrasi USS Abraham Lincoln. (Mehr News)

batampos – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menilai masa penugasan awak kapal induk USS Abraham Lincoln selama hampir sembilan bulan di laut belum tergolong lama. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah sorotan terhadap kondisi kesehatan mental para pelaut yang telah menjalani penugasan lebih dari 240 hari tanpa jeda.

Perhatian terhadap kondisi awak USS Abraham Lincoln meningkat seiring panjangnya masa penugasan kapal induk tersebut untuk mendukung operasi militer AS terhadap Iran. Kekhawatiran juga disebut datang dari keluarga personel yang menyoroti lamanya awak berada di laut.

Saat ditanya mengenai masa penugasan USS Abraham Lincoln, Trump mengatakan kapal tersebut akan segera bergerak dan digantikan kapal induk lain.

Baca Juga: Pilot Malaysia Ditangkap di Jakarta, Polisi Ungkap Cara Loloskan 26 Kg Narkoba dari KLIA

“Kapal itu sedang bergerak sekarang, atau dalam waktu dekat, dan sedang diganti dengan kapal lain yang sangat mirip,” kata Trump, dikutip dari AP News.

Trump kemudian menilai masa lebih dari sembilan bulan di laut belum terlalu lama. Pernyataan itu menjadi sorotan karena muncul ketika kesehatan mental awak dan persoalan pasokan menjadi perhatian dalam penugasan panjang.

USS Abraham Lincoln diketahui telah berada di laut lebih dari 240 hari secara terus-menerus. Masa tersebut menjadi salah satu periode operasi terpanjang yang dijalani kapal induk tersebut.

Pelaksana tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao sebelumnya juga mengatakan USS Abraham Lincoln akan segera kembali ke pangkalan melalui unggahan di media sosial.

Dengan demikian, meski Trump menilai masa penugasan tersebut belum terlalu panjang, awak kapal tampaknya segera mendapatkan pergantian setelah berbulan-bulan menjalankan operasi.

Konflik dengan Iran Berlarut

Panjang masa penugasan USS Abraham Lincoln tidak terlepas dari konflik militer AS dengan Iran yang berlangsung lebih lama dari perkiraan awal pemerintahan Trump.

Baca Juga: Negosiator Perdamaian Aceh Juha Christensen: Hormati Bendera GAM sebagai Sejarah

Saat memulai masa jabatan keduanya, Trump berjanji menghindari keterlibatan militer AS yang panjang dan mahal. Namun, setelah AS bersama Israel memulai perang terhadap Iran, Trump dan para penasihatnya sempat memperkirakan konflik tersebut hanya berlangsung beberapa pekan.

Kini, konflik telah berjalan lebih dari lima bulan. Dalam pidatonya di Garden City, New York, Trump mengakui penggunaan militer AS selama pemerintahannya lebih banyak dari yang dia inginkan.

“Saya sudah menggunakan militer sedikit lebih dari yang saya inginkan,” ujar Trump.

Meski demikian, Trump kembali menegaskan bahwa operasi militer AS terhadap Iran berjalan dengan baik.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyinggung Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik penting dalam konflik Iran sekaligus jalur vital perdagangan energi dunia.

Trump bahkan menyampaikan pernyataan bernada gurauan bahwa dirinya mungkin akan segera mendeklarasikan wilayah atas Selat Hormuz.

Baca Juga: Perkara Yehezkiel Berlanjut ke Kejaksaan, Berkas Dinyatakan Lengkap

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi menghambat pengiriman minyak dan memengaruhi harga energi global.

Trump juga menegaskan tidak akan meminta maaf atas perang maupun dampaknya terhadap harga minyak.

“Saya tidak akan pernah minta maaf. Saya melakukan hal yang benar,” tandas Trump. (*)

Editor : M Tahang
Presiden Amerika Serikat USS Abraham Lincoln donald trump