543 Tewas, 1.500 Orang Masih Hilang akibat Banjir Dahsyat Nepal-Tibet

JawaPos • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 05:39 WIB
Foto udara kondisi rumah yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8). Foto: ANTARA FOTO/Xinhua/Sulav Shrestha/agr
Foto udara kondisi rumah yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8). Foto: ANTARA FOTO/Xinhua/Sulav Shrestha/agr

batampos – Korban jiwa akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan perbatasan Nepal-Tibet terus bertambah. Hingga laporan terbaru, sedikitnya 543 orang meninggal dunia, sementara lebih dari 1.500 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Tim penyelamat dari Nepal dan Tiongkok kembali melanjutkan operasi pencarian setelah kondisi cuaca di sejumlah lokasi mulai membaik. Meski demikian, proses evakuasi masih menghadapi tantangan besar karena ancaman banjir susulan dan kerusakan infrastruktur yang sangat parah.

Bencana yang terjadi pada Rabu (26/8) itu menghancurkan permukiman, jembatan, kendaraan, serta akses jalan. Arus air bercampur lumpur datang secara tiba-tiba dan menyapu hampir seluruh fasilitas yang berada di jalurnya.

Di sejumlah wilayah, hamparan lumpur cokelat menutupi bangunan dan jalan raya. Material banjir yang menumpuk membuat alat berat dan tim penyelamat kesulitan menjangkau lokasi yang diduga masih terdapat korban.

Besarnya jumlah korban menjadikan bencana ini sebagai salah satu tragedi banjir paling mematikan yang pernah terjadi di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet.

Ancaman Banjir Susulan Masih Mengintai

Operasi pencarian berlangsung di tengah peringatan akan potensi banjir susulan. Pemerintah Nepal dan Tiongkok mengimbau warga yang tinggal di daerah rawan agar segera mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Salah satu ancaman berasal dari danau baru yang terbentuk di bagian hulu sungai setelah bencana terjadi. Mengutip CBC News, danau tersebut telah meluap dan masih berpotensi menerima tambahan debit air dalam jumlah besar.

Kementerian Sumber Daya Air Tiongkok memperkirakan danau itu saat ini menampung sekitar 2 juta meter kubik air. Dalam tiga hari ke depan, volumenya diperkirakan bertambah hingga 3 juta meter kubik.

Media pemerintah Tiongkok, CCTV, melaporkan penghalang alami danau tersebut berada lebih dari 10 kilometer dari Pelabuhan Gyirong, salah satu titik perlintasan perbatasan yang sebelumnya diterjang banjir dan longsor.

Danau itu berada di ketinggian sekitar 2.950 meter, atau sekitar 1.000 meter lebih tinggi dibandingkan Pelabuhan Gyirong. Kondisi tersebut meningkatkan risiko banjir susulan yang dapat mengancam permukiman di sepanjang aliran sungai.

Lebih dari 1.500 Orang Masih Dicari

Di Nepal, Tentara Nepal terus memperluas operasi pencarian dengan mengirim personel ke kawasan Sungai Bhotekoshi untuk memantau kondisi sungai sekaligus mengantisipasi kemungkinan banjir berikutnya.

Otoritas penanggulangan bencana Nepal juga telah mengevakuasi 3.253 orang menggunakan helikopter dari wilayah terdampak.

Para penyintas, termasuk korban luka, diterbangkan menuju Kathmandu dan sejumlah daerah lain yang dinilai lebih aman.

Meski ribuan warga telah berhasil dievakuasi, pencarian belum berakhir. Hingga kini, lebih dari 1.500 orang dari Nepal dan Tiongkok masih belum diketahui keberadaannya.

Sebagian korban hilang merupakan wisatawan asing yang sedang melakukan trekking maupun perjalanan ziarah menuju Gunung Kailash di Tibet, salah satu destinasi suci bagi beberapa tradisi keagamaan.

Wisatawan Asing Turut Menjadi Korban

Bencana ini juga menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara karena melibatkan wisatawan mancanegara.

Global Affairs Canada menyatakan terdapat 30 warga Kanada dan pemegang izin tinggal tetap Kanada yang masih belum diketahui nasibnya.

Selain itu, seorang perwakilan kelompok perjalanan mengungkapkan bahwa 10 warga Toronto yang mengikuti perjalanan trekking di kawasan tersebut juga masih dinyatakan hilang.

Proses pencarian terkendala medan yang rusak berat. Banyak jalan putus, jembatan ambruk, dan bangunan tertutup endapan lumpur sehingga menyulitkan akses menuju lokasi-lokasi terdampak.

Rekaman video yang beredar memperlihatkan derasnya arus air bercampur lumpur setinggi beberapa lantai bangunan yang menerjang kawasan permukiman. Warga terlihat berlarian menyelamatkan diri ketika jembatan, kendaraan, dan bangunan dihantam banjir.

Setelah air surut, kawasan terdampak dipenuhi puing-puing beton, bangunan yang tertimbun lumpur, serta ruas jalan yang terkubur material banjir.

Hingga kini, tim penyelamat Nepal dan Tiongkok masih berpacu dengan waktu untuk menemukan para korban yang hilang sekaligus mengantisipasi ancaman banjir susulan yang masih membayangi wilayah tersebut. (*)

Editor : Putut Ariyo
banjir Nepal banjir Tibet korban hilang longsor bencana alam