batampos - Jepang tengah menghadapi kelangkaan penisilin, obat pilihan utama untuk mengobati sifilis. Kondisi tersebut terjadi ketika kasus penyakit menular seksual itu terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Pasokan penisilin terganggu setelah fasilitas produksi mengalami kerusakan peralatan. Produksi diperkirakan baru dapat kembali pada paruh kedua 2027.
Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi ibu hamil. Penisilin merupakan satu-satunya obat yang direkomendasikan untuk mencegah penularan sifilis dari ibu kepada janin.
Dilansir Kyodo, Rabu (9/9), Japanese Society for Sexually Transmitted Infections meminta tenaga medis memprioritaskan penggunaan penisilin bagi pasien hamil.
Sifilis merupakan infeksi menular seksual yang jumlah kasusnya meningkat di Jepang sejak sekitar akhir pandemi Covid-19. Data menunjukkan kasus yang dilaporkan naik dari sekitar 6.000 pada 2020 menjadi lebih dari 13.000 kasus pada 2025.
Risiko Sifilis pada Ibu Hamil
Sifilis yang tidak ditangani selama kehamilan dapat ditularkan kepada janin melalui plasenta. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan bayi lahir mati atau prematur.
Penularan juga dapat menyebabkan sifilis kongenital. Penyakit tersebut berpotensi menimbulkan gangguan pada sistem saraf dan tulang anak.
Karena risiko tersebut, ketersediaan penisilin menjadi sangat penting, terutama bagi ibu hamil yang terinfeksi sifilis.
Produksi Penisilin Terganggu
Krisis pasokan semakin berat setelah obat sifilis yang diproduksi Pfizer Inc. ditarik secara sukarela pada Juli 2025. Penarikan dilakukan setelah ditemukan kontaminasi benda asing pada produk.
Beberapa bulan kemudian, pada November 2025, kerusakan peralatan terjadi di fasilitas produksi perusahaan tersebut.
Pfizer mengatakan pengiriman obat diperkirakan baru dapat dilanjutkan pada paruh kedua tahun depan. Perusahaan menyebut persiapan fasilitas produksi serta pemeriksaan regulator membutuhkan waktu sebelum produksi dan distribusi dapat kembali dilakukan.
Dokter Diminta Hemat Penggunaan
Japanese Society for Sexually Transmitted Infections menerbitkan panduan bagi fasilitas kesehatan pada 24 Agustus. Organisasi tersebut meminta dokter menghindari pemberian resep yang tidak diperlukan dengan mempertimbangkan kondisi setiap pasien.
Apotek juga diminta tidak melakukan pemesanan penisilin dalam jumlah besar karena adanya kekhawatiran terhadap ketersediaan stok.
Organisasi tersebut mengusulkan agar penisilin diprioritaskan bagi ibu hamil serta pasien yang tidak dapat menggunakan obat alternatif.
Hiroshige Mikamo, profesor di Asahi University, Prefektur Gifu, mengatakan kebijakan tersebut merupakan langkah pencegahan agar pasien tetap memiliki kesempatan memperoleh pengobatan.
Profesor yang juga memimpin komite sifilis organisasi tersebut mengingatkan masyarakat agar tetap mencari perawatan medis meskipun terjadi kelangkaan penisilin. (*)
Editor : Putut Ariyo