batampos – Bagi sebagian lansia di Nishinari, Osaka, Jepang, menghadapi kematian seorang diri bukan lagi sesuatu yang harus ditakuti sendirian. Mereka membentuk komunitas yang saling mendampingi, termasuk memastikan setiap anggota mendapat pemakaman yang layak.
Komunitas tersebut bahkan membantu anggotanya mempersiapkan berbagai urusan setelah meninggal dunia. Ketika salah satu anggota berpulang, anggota lainnya berkomitmen hadir untuk mengantarkan hingga pemakaman.
Pada sebuah pemakaman di akhir Mei, sekitar 45 orang berkumpul di sebuah pusat komunitas di Nishinari. Seorang pria terlihat menangis di depan altar sambil berkata, “Mengapa kamu harus meninggalkan kami begitu cepat?”
Para pelayat kemudian meletakkan bunga krisan putih di atas peti jenazah sebagai penghormatan terakhir kepada sesama anggota komunitas.
Dibentuk untuk Warga Tanpa Kerabat
Komunitas bernama Kamagasaki Miokuri no Kai atau Kamagasaki Send-off Association itu dibentuk untuk memastikan warga yang tidak memiliki kerabat dekat tetap memperoleh akhir kehidupan yang bermartabat.
Kelompok sukarelawan tersebut berdiri pada Februari 2012 atas prakarsa Yoshihiro Sugimoto, yang kini berusia 82 tahun. Pendeta Buddha Toyoko Nakahara, 65, kemudian mengambil alih kepemimpinan pada April setelah beberapa tahun aktif dalam kegiatan komunitas.
Nakahara pertama kali mengetahui keberadaan kelompok tersebut melalui sebuah program televisi pada 2018. Ia kemudian tertarik dengan misi komunitas yang mendampingi warga hingga akhir hayat.
“Meninggal sendirian adalah sesuatu yang bisa terjadi pada siapa pun,” kata Nakahara. “Saya ingin terlibat dalam kehidupan dan kematian orang-orang.”
Asosiasi tersebut terutama melayani warga Nishinari yang menerima bantuan sosial. Anggotanya membayar iuran sebesar 100 yen atau sekitar Rp11.400 per bulan.
Saat ini, terdapat sekitar 100 anggota, termasuk para sukarelawan. Sekitar 70 anggota telah menandatangani perjanjian yang memberikan wewenang kepada asosiasi untuk menangani pemakaman dan berbagai urusan mereka setelah meninggal.
Anggota Dibekali Kartu Khusus
Setiap anggota membawa kartu yang mencantumkan agama yang dianut serta informasi kontak Nakahara dan anggota kelompok lainnya.
Ketika seorang anggota meninggal dunia di rumah sakit atau fasilitas lainnya, pihak asosiasi akan dihubungi untuk menangani berbagai keperluan yang telah disepakati.
Sebagian biaya pemakaman dapat ditanggung melalui bantuan yang tersedia bagi penerima kesejahteraan sosial ketika meninggal dunia. Rumah duka yang mendukung kegiatan komunitas tersebut juga menyediakan altar dan bunga secara gratis.
Dengan mekanisme itu, anggota yang tidak memiliki keluarga dekat tetap memiliki orang-orang yang akan mengurus dan mengantarkan mereka pada saat terakhir.
Banyak Anggota Mantan Pekerja Harian
Nishinari memiliki sejarah panjang sebagai kawasan tempat para pekerja harian mencari pekerjaan. Pada masa pertumbuhan ekonomi Jepang, banyak orang dari berbagai penjuru negeri datang ke Distrik Airin, yang dikenal luas sebagai Kamagasaki, untuk mencari nafkah.
Latar belakang tersebut masih terlihat dalam komunitas Kamagasaki Miokuri no Kai. Banyak anggota laki-laki merupakan mantan pekerja harian. Sementara itu, sejumlah anggota perempuan kehilangan suami yang dahulu bekerja sebagai pekerja harian.
Nakahara mengatakan banyak anggota tidak ingin menceritakan masa lalu mereka.
Salah satu anggota, Kazuyasu Ikeda, 82, telah bergabung sejak asosiasi tersebut didirikan. Ia bahkan telah ikut mengantar sekitar 50 anggota menuju pemakaman.
Ikeda sendiri telah terpisah dari keluarganya dan pindah ke kawasan tersebut sekitar 30 tahun lalu untuk mencari pekerjaan.
“Kesepian jika meninggal sendirian,” kata Ikeda. “Diantar oleh orang lain juga membantu menjaga martabat orang yang telah meninggal.”
Bukan Sekadar Komunitas Pemakaman
Kegiatan asosiasi tidak berhenti setelah pemakaman. Para anggota menggelar pertemuan rutin, mengunjungi makam, serta saling berbagi kenangan mengenai anggota yang telah meninggal.
Ikatan tersebut semakin penting seiring bertambah tuanya populasi Nishinari.
Per 1 Agustus, warga berusia 65 tahun ke atas diperkirakan mencapai 36,1 persen dari populasi distrik tersebut. Angka itu merupakan yang tertinggi di Osaka dan berada di atas rata-rata nasional Jepang.
Jumlah anggota maupun pemakaman diperkirakan terus bertambah. Para sukarelawan juga membagikan buletin setiap dua bulan untuk memantau kondisi dan kesejahteraan anggota.
Namun, keberlangsungan komunitas tersebut juga menghadapi tantangan. Nakahara mengakui beban kerja para sukarelawan cukup berat.
“Beban kerja cukup berat, dan saya khawatir apakah kami bisa terus menjalankan kelompok ini,” kata Nakahara. “Kami juga ingin berupaya menambah jumlah anggota yang dapat membantu sebagai sukarelawan.” (*)
Editor : Putut Ariyo