Rekor 56 Tahun Berturut-turut, Jepang Kini Punya 107.677 Warga Berusia 100 Tahun

jpg • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 16:31 WIB
Fuyo Kishimoto, warga Kyoto berusia 114 tahun yang lahir pada 20 Desember 1911, tercatat sebagai perempuan tertua di Jepang. (LongeviQuest)
Fuyo Kishimoto, warga Kyoto berusia 114 tahun yang lahir pada 20 Desember 1911, tercatat sebagai perempuan tertua di Jepang. (LongeviQuest)

batampos – Jumlah warga Jepang yang berusia 100 tahun atau lebih mencapai rekor baru pada September 2026. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang mencatat sebanyak 107.677 centenarian, sekaligus menembus angka 100.000 untuk pertama kalinya.

Data yang dirilis Selasa (15/9/2026) itu menunjukkan jumlah warga berusia 100 tahun ke atas meningkat 7.914 orang dibandingkan tahun sebelumnya. Tren kenaikan tersebut berlangsung selama 56 tahun berturut-turut.

Dilansir Kyodo, mayoritas centenarian di Jepang merupakan perempuan. Tercatat 94.298 perempuan atau sekitar 87,6 persen dari total warga berusia 100 tahun ke atas.

Sementara itu, jumlah centenarian laki-laki mencapai sekitar 13 ribu orang. Dalam setahun terakhir, jumlah laki-laki berusia 100 tahun ke atas bertambah 1.400 orang, sedangkan perempuan meningkat 6.514 orang.

Data tersebut disusun berdasarkan daftar penduduk dasar per 1 September 2026.

Selain warga yang telah mencapai usia 100 tahun, pemerintah Jepang memperkirakan 54.294 orang lainnya akan genap berusia 100 tahun sepanjang 2026. Jumlah tersebut meningkat 1.984 orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Kemajuan Medis dan Tantangan Jaminan Sosial

Menteri Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang Kenichiro Ueno menyebut meningkatnya jumlah warga yang mampu mencapai usia sangat lanjut sebagai perkembangan yang menggembirakan.

Menurutnya, kemajuan teknologi medis turut berkontribusi terhadap meningkatnya harapan hidup masyarakat.

"Kami senang bahwa banyak orang hidup lebih lama dan tetap aktif, sebagian berkat kemajuan teknologi medis," kata Ueno dalam konferensi pers.

Namun, di balik meningkatnya jumlah penduduk berusia lanjut, Jepang menghadapi tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan sistem jaminan sosial.

"Seiring populasi terus menua, sangat penting untuk membuat sistem jaminan sosial berkelanjutan," ujarnya.

Jepang saat ini menghadapi tekanan terhadap keuangan publik akibat kombinasi angka kelahiran yang rendah dan populasi yang terus menua. Kondisi tersebut membuat kebutuhan pembiayaan jaminan sosial terus meningkat.

Dua Warga Tertua Jepang

Fuyo Kishimoto, warga Kyoto yang lahir pada 20 Desember 1911, tercatat sebagai perempuan tertua di Jepang pada usia 114 tahun.

Sementara itu, Hikaru Kato, pria asal Kumamoto yang lahir pada 2 Mei 1914, menjadi pria tertua di Jepang dengan usia 112 tahun.

Secara nasional, jumlah warga Jepang berusia 100 tahun ke atas mencapai sekitar 87,51 orang per 100.000 penduduk.

Jumlah tersebut jauh berbeda dibandingkan ketika pemerintah Jepang pertama kali melakukan pencatatan pada 1963. Saat itu hanya terdapat 153 orang berusia 100 tahun atau lebih.

Jumlah centenarian kemudian meningkat menjadi 310 orang pada 1970, menembus 1.000 orang pada 1981, melewati 10.000 orang pada 1998, dan mencapai lebih dari 50.000 orang pada 2012.

Lonjakan tersebut memperlihatkan semakin kuatnya tren penuaan penduduk di Jepang.

Pada 2025, angka harapan hidup rata-rata di Jepang tercatat mencapai 87,33 tahun untuk perempuan dan 81,35 tahun untuk laki-laki. (*)

Editor : Jamil Qasim
warga Jepang berusia 100 tahun