Rekor Baru, 107.677 Warga Jepang Berusia 100 Tahun

JawaPos • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 14:34 WIB
Fuyo Kishimoto, warga Kyoto berusia 114 tahun yang lahir pada 20 Desember 1911, tercatat sebagai perempuan tertua di Jepang. (LongeviQuest)
Fuyo Kishimoto, warga Kyoto berusia 114 tahun yang lahir pada 20 Desember 1911, tercatat sebagai perempuan tertua di Jepang. (LongeviQuest)

 
batampos - Jumlah warga Jepang berusia 100 tahun atau lebih mencapai rekor 107.677 orang pada September 2026. Angka tersebut untuk pertama kalinya menembus 100 ribu dan mencatat peningkatan selama 56 tahun berturut-turut.

Dilansir dari Kyodo, Selasa (15/9), data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menunjukkan jumlah centenarian tersebut bertambah 7.914 orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Perempuan masih mendominasi kelompok tersebut dengan 94.298 orang atau 87,6 persen dari total warga Jepang berusia 100 tahun ke atas. Sementara itu, jumlah laki-laki bertambah 1.400 orang dan perempuan meningkat 6.514 orang dalam setahun.

Data tersebut disusun berdasarkan daftar penduduk dasar per 1 September.

Selain warga yang telah mencapai usia 100 tahun, sebanyak 54.294 orang lainnya diperkirakan akan mencapai usia tersebut selama 2026. Jumlah itu meningkat 1.984 orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga: Jensen Huang Dukung Trump, Tolak Seruan Perlambat Pengembangan AI

Menteri Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang Kenichiro Ueno mengatakan meningkatnya jumlah orang yang mampu hidup hingga usia sangat lanjut merupakan hal yang menggembirakan. Salah satu faktor yang berkontribusi, menurutnya, adalah kemajuan teknologi medis.

“Kami senang bahwa banyak orang hidup lebih lama dan tetap aktif, sebagian berkat kemajuan teknologi medis,” kata Ueno dalam konferensi pers.

Namun, peningkatan populasi lansia juga menjadi tantangan bagi keberlanjutan sistem jaminan sosial Jepang.

“Seiring populasi terus menua, sangat penting untuk membuat sistem jaminan sosial berkelanjutan,” ujarnya.

Jepang menghadapi tekanan terhadap keuangan publik akibat kombinasi rendahnya angka kelahiran dan populasi yang menua. Biaya jaminan sosial terus meningkat setiap tahun, sementara kondisi fiskal Jepang disebut menjadi yang terburuk di antara negara-negara maju utama. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
demografi Centenarian populasi lansia jepang