batampos - Pabrik yang menggunakan robot untuk membuat robot humanoid kini mulai memasuki tahap produksi skala industri. UBTECH Robotics mengoperasikan fasilitas baru di Liuzhou, Guangxi, China, yang dirancang mampu memproduksi lebih dari 10.000 robot humanoid per tahun.
Fasilitas tersebut memiliki kemampuan produksi dengan waktu siklus sekitar 10 menit untuk setiap unit robot. Pabrik ini digunakan untuk memproduksi robot humanoid industri seri Walker S dan Cruzr.
Pabrik seluas 14.000 meter persegi dengan ketinggian 13,8 meter itu mulai beroperasi pada 12 September 2026. Berbeda dengan lini produksi konvensional, fasilitas tersebut menggabungkan robot humanoid, lengan robot kolaboratif, kendaraan berpemandu otomatis, forklift tanpa awak, serta sistem digital untuk mengatur aliran material dan proses produksi.
Dilansir dari Interesting Engineering, Selasa (15/9/2026), kapasitas produksi tahunan fasilitas tersebut mencapai lebih dari 10.000 unit. Setelah peluncuran fasilitas produksi, saham UBTECH juga tercatat naik lebih dari 3 persen pada awal perdagangan 14 September.
Skala fasilitas tersebut menunjukkan perubahan tantangan dalam industri robot humanoid. Persoalannya tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan membuat robot, tetapi juga bagaimana memproduksinya dalam jumlah besar secara konsisten dan ekonomis.
Robot Ikut Membuat Robot
Salah satu hal yang membuat fasilitas UBTECH di Liuzhou berbeda adalah keterlibatan robot humanoid dalam proses produksi robot humanoid.
Robot digunakan untuk sejumlah pekerjaan, mulai dari membongkar muatan dari palet, menata palet, memasok material, hingga memindahkan komponen.
Pada tahap perakitan akhir, proses produksi juga melibatkan lengan robot kolaboratif, perangkat bantu mekanis, kendaraan logistik tanpa awak, serta meja kerja yang dapat berputar 360 derajat.
Kompleksitas proses tersebut terlihat dari jumlah komponen yang harus dirakit. Setiap robot membutuhkan lebih dari 2.000 sekrup dengan spesifikasi berbeda.
Setelah material tiba di area produksi, kendaraan berpemandu otomatis dan forklift tanpa awak mengatur distribusinya ke berbagai bagian lini produksi. Robot yang telah selesai dirakit kemudian dipindahkan ke gudang tiga dimensi otomatis.
Setiap unit juga dilengkapi kode nomor seri unik. Sistem tersebut memungkinkan perusahaan menelusuri sumber komponen, parameter perakitan, hingga catatan pemeriksaan setiap robot.
Kemampuan penelusuran tersebut menjadi penting dalam proses produksi robot yang memiliki banyak komponen dan sistem kompleks. Ketika terjadi masalah, produsen dapat melacak komponen serta tahapan produksi yang terkait.
Pabrik Dibuat dalam Model Digital
UBTECH mengembangkan sistem manufaktur tersebut bersama Siemens Digital Industries Software.
Melalui platform Plant Simulation, fasilitas produksi dibuat dalam model digital dengan skala 1:1. Model tersebut mencakup jalur produksi, stasiun kerja, area penyimpanan hingga rute kendaraan otomatis.
Dengan model digital tersebut, insinyur dapat melakukan simulasi aliran material dan proses produksi sebelum perubahan diterapkan secara langsung di fasilitas fisik.
Pendekatan ini memungkinkan perusahaan menguji perubahan lini produksi secara virtual. Penyesuaian maupun penambahan model robot baru pun dapat dilakukan dengan risiko gangguan operasional yang lebih rendah.
Di atas sistem tersebut, UBTECH juga menggunakan Yanshee MOM, sistem manajemen operasi manufaktur yang dikembangkan bersama Siemens Intelligence Center X.
Sistem ini digunakan untuk mengatur penjadwalan serta koordinasi kegiatan manufaktur. Integrasi berbagai sistem tersebut memungkinkan pergerakan material, proses perakitan, hingga pemeriksaan kualitas dikelola dalam satu ekosistem produksi.
UBTECH Bidik Pasar Internasional
Pendiri sekaligus CEO UBTECH Zhou Jian mengatakan pemilihan Guangxi sebagai lokasi fasilitas produksi berkaitan dengan ekosistem industri dan manufaktur di wilayah tersebut.
“Kami memilih Guangxi karena daerah ini memahami industri, memahami manufaktur, dan lebih memahami bagaimana mendukung sebuah industri yang dimulai dari nol,” kata Zhou.
Menurut dia, fasilitas baru tersebut bukan hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Pabrik juga menjadi bagian dari pengembangan manufaktur cerdas, pengendalian kualitas dari hulu hingga hilir, serta pembangunan fondasi digital untuk industri robot humanoid.
Robot yang diproduksi di fasilitas tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri China, Asia Tenggara, hingga pasar internasional.
Wali Kota Liuzhou Zhang Zhuang mengatakan pengoperasian fasilitas UBTECH menjadi bagian dari pengembangan kemampuan produksi robot dalam skala besar di kota tersebut.
“Kami berharap UBTECH menjadikan produksi ini sebagai titik awal baru untuk memperluas penerapan teknologi robot humanoid di lebih banyak sektor industri,” ujarnya.
Kapasitas Besar Belum Cukup
Pengembangan fasilitas UBTECH menambah dinamika persaingan industri robot humanoid, termasuk dengan sejumlah perusahaan Amerika Serikat seperti Tesla dan Figure AI.
Namun, kapasitas produksi yang besar belum dengan sendirinya menentukan keberhasilan sebuah produk di pasar.
Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa robot humanoid dapat bekerja secara konsisten di lingkungan industri sekaligus memberikan nilai ekonomi yang sebanding dengan biaya investasi dan operasionalnya.
Dengan kapasitas lebih dari 10.000 unit per tahun, UBTECH kini memiliki salah satu fondasi manufaktur yang diperlukan untuk membawa robot humanoid dari tahap pengembangan menuju penggunaan industri dalam skala lebih luas. (*)
Editor : Putut Ariyo