Korsel Tegaskan Tak Akan Terlibat Perang Iran, Fokus Lindungi Jalur Dagang

JawaPos • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 13:15 WIB

 

 

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung. (Ahn Young-joon/Pool via REUTERS/File Photo)
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung. (Ahn Young-joon/Pool via REUTERS/File Photo)

batampos - Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan negaranya tidak akan mengerahkan militer ke Timur Tengah jika langkah tersebut berpotensi menyeret Seoul ke dalam perang dengan Iran.

Meski menolak keterlibatan langsung dalam konflik, Korea Selatan masih mempertimbangkan peran terbatas untuk menjaga keamanan pelayaran dan kelancaran pengiriman minyak di kawasan Timur Tengah.

“Tidak akan ada pengerahan yang melibatkan atau memasuki perang. Saya bisa mengatakan itu dengan sangat jelas,” kata Lee, dikutip dari The Guardian.

“Kami tidak akan mengerahkan aset militer dalam bentuk apa pun untuk tujuan itu,” lanjutnya.

Pernyataan Lee disampaikan di tengah tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada sejumlah sekutu Washington untuk memberikan dukungan terhadap operasi militer AS di Iran.

Korsel Pertimbangkan Pengamanan Jalur Pelayaran

Meski menolak keterlibatan langsung dalam perang, Lee mengatakan pemerintah Korea Selatan masih mengkaji kemungkinan memperluas peran untuk menjaga keamanan navigasi di Timur Tengah.

Menurut Lee, Seoul tetap perlu mengambil langkah terbatas untuk melindungi kepentingan ekonominya, terutama kapal dagang, pengiriman minyak mentah, serta warga Korea Selatan yang berada di kawasan tersebut.

“Itu juga jelas bahwa kami harus melakukan hal minimum seperti negara-negara lain untuk melindungi pelayaran komersial dan pengiriman minyak mentah kami, serta keselamatan rakyat kami,” ujarnya.

Korea Selatan selama ini memiliki kehadiran angkatan laut di sekitar Somalia melalui misi antipembajakan.

Seoul juga tengah mengkaji kemungkinan pengerahan aset militer ke Selat Hormuz, salah satu jalur strategis bagi lalu lintas energi dunia.

Namun, rencana tersebut menghadapi penolakan di dalam negeri karena muncul kekhawatiran keterlibatan tersebut dapat membuat Korea Selatan terseret lebih jauh ke dalam konflik di Timur Tengah.

Tekanan Trump terhadap Seoul

Sikap Lee muncul setelah Trump mengkritik Korea Selatan karena dinilai belum memberikan dukungan yang cukup terhadap perang Iran.

Hubungan pertahanan Seoul dan Washington juga menjadi perhatian setelah latihan militer gabungan kedua negara dikurangi pada musim panas tahun ini.

Di luar persoalan militer, Korea Selatan dan Amerika Serikat masih membahas komitmen investasi Seoul di AS sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan kedua negara.

Lee mengatakan salah satu persoalan utama dalam pembahasan tersebut adalah kelayakan komersial dari paket investasi yang telah disepakati.

Menurut Lee, masih terdapat sejumlah bagian yang sulit diterima Seoul. Meski demikian, dia menyebut kedua pihak semakin mendekati kesepakatan.

Korea Selatan sebelumnya berkomitmen menginvestasikan USD 350 miliar di sektor manufaktur Amerika Serikat sebagai imbalan atas penurunan tarif impor produk Korea Selatan menjadi 15 persen.

Pemerintah Korea Selatan kini menunda pengarahan kepada parlemen mengenai rencana investasi tersebut. Penjelasan itu diperkirakan kembali digelar pekan depan.

Lee Buka Peluang Pertemuan Trump-Kim Jong-un

Dalam konferensi pers yang sama, Lee juga menyinggung kemungkinan pertemuan antara Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dalam beberapa bulan mendatang.

Lee mengatakan pertemuan tersebut masih mungkin terjadi, tetapi sejumlah kondisi perlu dipenuhi.

“Yang jelas adalah Presiden Trump menginginkan pembicaraan, dan saya juga menginginkannya, dan kami terus melakukan koordinasi untuk memungkinkan dialog antara Korea Utara dan AS,” kata Lee.

Sejauh ini, media pemerintah Korea Utara relatif tidak banyak merespons seruan Trump untuk kembali bertemu Kim.

Trump sendiri disebut telah mendorong para pembantunya untuk mengupayakan pertemuan dengan Kim sejak musim gugur.(*)

Editor : Cipi Ckandina
Tak Akan Terlibat Jalur Dagang korsel perang iran