Sudah Kuliah, 43 Persen Pemuda Sri Lanka Masih Menganggur

jpg • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 13:26 WIB
Sri Lanka mencatat tingkat pengangguran tertinggi di kalangan kaum muda berpendidikan tinggi di antara sekelompok perekonomian Asia yang diteliti oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Foto: ANTARA/Xinhua.
Sri Lanka mencatat tingkat pengangguran tertinggi di kalangan kaum muda berpendidikan tinggi di antara sekelompok perekonomian Asia yang diteliti oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Foto: ANTARA/Xinhua.

batampos - Sekitar 43 persen warga muda Sri Lanka berusia 15 hingga 24 tahun yang menempuh pendidikan pasca-sekolah menengah masih berstatus pengangguran.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara sejumlah perekonomian Asia yang dibandingkan Dana Moneter Internasional (IMF). Data yang digunakan merupakan data 2025 atau yang terbaru tersedia dan dipublikasikan dalam majalah IMF Finance & Development edisi September 2026.

Laporan tersebut dikutip media lokal Newswire pada Senin (21/9).

Sri Lanka di Atas India dan Bangladesh

Tingkat pengangguran pemuda berpendidikan di Sri Lanka terlihat tinggi jika dibandingkan dengan sejumlah negara Asia Selatan lainnya.

India mencatat angka sekitar 42 persen, sedangkan Bangladesh berada di kisaran 36 persen.

Data tersebut menggambarkan bahwa pendidikan formal belum selalu berbanding lurus dengan peluang memperoleh pekerjaan bagi kaum muda.

Persoalannya tidak hanya menyangkut ketersediaan lapangan kerja. Ada pula kesenjangan antara kualifikasi yang dimiliki lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan pemberi kerja.

Lulusan Muda Hadapi Kesenjangan Keterampilan

Di sejumlah negara Asia, tingkat pengangguran di kalangan anak muda yang memiliki pendidikan lebih tinggi tercatat lebih besar dibandingkan populasi secara umum.

Pola tersebut terlihat lebih kuat di Asia Selatan. Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan dalam hubungan antara sistem pendidikan dan kebutuhan pasar tenaga kerja.

Bagi lulusan muda, masa transisi dari pendidikan menuju dunia kerja pun tidak selalu berjalan mulus. Gelar dan kualifikasi yang diperoleh belum otomatis menjamin seseorang segera mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

Kesenjangan tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dan dunia pendidikan untuk memastikan keterampilan lulusan tetap relevan dengan perubahan kebutuhan industri.

AI Bisa Mengubah Pasar Kerja

Perkembangan teknologi turut menambah kompleksitas persoalan ketenagakerjaan. IMF menilai kecerdasan buatan (AI) memiliki potensi meningkatkan produktivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, adopsi AI juga dapat meningkatkan tekanan di pasar tenaga kerja. Dampaknya terutama perlu diperhatikan bagi pekerja muda apabila perkembangan teknologi berlangsung lebih cepat dibandingkan peningkatan keterampilan tenaga kerja.

Karena itu, persoalan pengangguran pemuda berpendidikan di Asia tidak hanya berkaitan dengan penciptaan lapangan pekerjaan baru.

Penyesuaian antara pendidikan, keterampilan, dan kebutuhan industri menjadi bagian penting untuk memperkecil kesenjangan tersebut. Dengan begitu, peningkatan jumlah lulusan dapat lebih sejalan dengan kebutuhan pasar kerja. (*)

Editor : Putut Ariyo
pendidikan tinggi Sri Lanka pemuda IMF pengangguran