Kabut Asap Malaysia Diprediksi Bertahan hingga 2027, Ini Penyebabnya

jpg • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 09:19 WIB
Situasi kabut asap saat ini diperkirakan akan berlanjut hingga awal 2027 akibat cuaca panas dan kering berkepanjangan yang merupakan dampak dari fenomena El Nino. Foto: ANTARA/Xinhua
Situasi kabut asap saat ini diperkirakan akan berlanjut hingga awal 2027 akibat cuaca panas dan kering berkepanjangan yang merupakan dampak dari fenomena El Nino. Foto: ANTARA/Xinhua

batampos - Kabut asap di Malaysia diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027 akibat cuaca panas dan kering berkepanjangan yang dipengaruhi fenomena El Nino.

Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Hidup Malaysia Arthur Joseph Kurup mengatakan El Nino diperkirakan menguat menjadi fase yang disebut Super El Nino mulai Oktober 2026 hingga Januari 2027. Dampaknya diperkirakan masih terasa hingga Juni 2027.

Kondisi tersebut diperparah monsun barat daya yang berlangsung bersamaan sehingga curah hujan menjadi lebih rendah dan cuaca cenderung lebih panas serta kering.

“ Kondisi kering yang berkepanjangan tersebut akan meningkatkan risiko kebakaran terbuka, terutama di daerah-daerah rawan kebakaran,” ujar Arthur kepada media setempat, Selasa (22/9).

Arthur mengatakan kondisi kabut asap kali ini berpotensi berlangsung lebih lama dibandingkan kejadian sebelumnya yang umumnya bertahan selama satu hingga dua bulan.

Malaysia juga menyatakan kesiapannya membantu Indonesia menangani kebakaran hutan dan lahan yang berkontribusi terhadap kabut asap lintas batas. Bantuan tersebut antara lain berupa kemampuan pemadaman dari udara.

Malaysia menawarkan operasi pengeboman air menggunakan helikopter, dukungan pemadaman dengan pesawat amfibi, serta pelaksanaan operasi penyemaian awan. Bentuk dan cakupan bantuan akan dibahas bersama pemerintah Indonesia sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan.

“Bentuk dan ruang lingkup bantuan akan dirinci bersama dengan pemerintah Indonesia berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian situasi di lapangan, tergantung pada kesepakatan instansi kedua negara,” ujar Arthur.

Sebelumnya, Malaysia dan Indonesia juga telah menyepakati penguatan langkah pencegahan dan penanggulangan kabut asap lintas batas seiring perkiraan menguatnya El Nino mulai Oktober 2026.

Dampak kabut asap juga terlihat di sejumlah wilayah Sarawak, Malaysia, yang berada di bagian utara Pulau Kalimantan atau Borneo. Pada Selasa (22/9) pukul 16.00 waktu setempat, 11 wilayah di Sarawak mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat.

Sibu mencatat Indeks Polutan Udara atau Air Pollutant Index (API) tertinggi, yakni 175. Mukah dan Sri Aman masing-masing berada di angka 172, disusul Sarikei 160, Kuching dan Serian masing-masing 159, Samarahan 155, Bintulu 154, Samalaju 153, Miri Industrial Training Institute 121, serta Kapit 104.

Dalam klasifikasi API Malaysia, angka 0–50 masuk kategori baik, 51–100 moderat, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 masuk kategori berbahaya.

Situasi tersebut terjadi ketika Indonesia juga menghadapi periode kering yang lebih panjang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Nino dengan intensitas sangat kuat sedang berlangsung dan berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan.

BMKG memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di 529 zona musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Kondisi panas dan kering yang berkepanjangan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta memperbesar potensi terjadinya kabut asap lintas batas di kawasan Asia Tenggara. (*)

 

Editor : Putut Ariyo
Sarawak kabut asap Malaysia Indonesia Malaysia kebakaran hutan el nino