Data Food and Agriculture Organization (FAO) 2025 mencatat biaya pola makan sehat di Indonesia mencapai USD4,75 berdasarkan paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) per orang per hari.
Kondisi tersebut menunjukkan sebagian masyarakat masih menghadapi kendala dalam mengakses pola makan yang sehat dan beragam.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan prevalensi penduduk Indonesia yang mengalami kerawanan pangan sedang atau berat mencapai 4 persen pada 2025.
Angka tersebut mencakup penduduk yang pernah atau sedang mengalami kerawanan pangan setidaknya sekali dalam 12 bulan terakhir berdasarkan Food Insecurity Experience Scale (FIES).
Persoalan gizi dan ketahanan pangan menjadi salah satu isu yang dibahas dalam 29th World Congress on Clinical Nutrition (WCCN) di Makhachkala, Dagestan, Rusia, pada 1–3 Oktober 2026. Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (PERGIZI PANGAN) Indonesia Prof. Ahmad Sulaeman dijadwalkan menghadiri kongres tersebut.
Kongres tersebut mengangkat tema gizi dan teknologi biomekatronik baru untuk meningkatkan kualitas hidup. Pembahasannya mencakup gizi klinis dan fungsional untuk penyakit tidak menular hingga pengendalian neurometabolik melalui biomekatronik adaptif dan neuroteknologi.
Dalam bidang gizi klinis, sejumlah topik yang dibahas meliputi pola makan untuk mencegah dan menangani penyakit tidak menular, nutrigenomik, gizi personal, mikrobiota usus, penanda biologis status gizi, serta intervensi diet.
Pangan fungsional dan nutrasetikal juga masuk dalam agenda. Selain itu, kongres membahas pola konsumsi masyarakat, kebijakan publik, pelabelan pangan, perpajakan, program pemerintah, hingga rekomendasi keamanan pangan.
Sulaeman mengatakan pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan konsensus yang dapat menjadi bahan bagi para ahli dalam menyusun panduan terkait berbagai persoalan kesehatan.
"Kongres ini akan mengumpulkan konsensus berisi masalah-masalah kesehatan yang ada di dunia yang nantinya bisa menjadi bahan bagi para ahli dan pakar untuk membuat panduan akan masalah kesehatan tertentu," kata Sulaeman, dikutip Selasa (29/9).
Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB tersebut mengatakan pembahasan WCCN mencakup persoalan gizi dan nutrisi manusia sejak tahap produksi hingga makanan tersaji di meja makan.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk memastikan pangan yang dikonsumsi dapat mendukung pembentukan tubuh dan gaya hidup sehat.
"Pertemuan WCCN menjadi sangat penting karena di samping membahas gizi, pertemuan internasional ini juga membahas tentang sistem pangan yang tangguh," ujarnya.
Sulaeman menambahkan, keamanan pangan menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian dalam pembahasan tersebut. Menurut dia, sumber pangan, baik dari tanaman maupun peternakan, merupakan titik awal untuk memastikan makanan yang dikonsumsi memiliki nilai gizi.
"Jadi kita harus bisa membangun sistem pangan yang tahan terhadap perubahan kondisi hingga geopolitik global," katanya.
Akses Pangan Sehat Jadi Isu Global
Persoalan akses terhadap makanan sehat juga menjadi isu global. Laporan The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) 2025 memperkirakan sekitar 2,3 miliar orang mengalami kerawanan pangan sedang atau berat pada 2024. Sebanyak 2,6 miliar orang juga belum mampu membeli pola makan sehat.
Sementara itu, laporan SOFI 2026 menyebut sekitar 645 juta orang masih menghadapi kelaparan pada 2025. Laporan tersebut juga menekankan bahwa sekitar sepertiga populasi dunia masih belum mampu membeli pola makan sehat.
Pembahasan mengenai pangan dan gizi dalam WCCN juga melanjutkan agenda kongres sebelumnya. WCCN ke-28 digelar di Bogor, Indonesia, pada 2025.
Diskusi dalam pertemuan tersebut kemudian menjadi dasar pernyataan konsensus ilmiah mengenai pola makan berkelanjutan dan pangan fungsional yang diterbitkan pada Juli 2026.
Ketua WCCN 2025 Prof. Hardinsyah sebelumnya mengatakan salah satu fokus pembahasan adalah pemanfaatan makanan sehari-hari untuk membantu mencegah penyakit.
"Jadi komponen fungsional yang bermanfaat buat kesehatan, yaitu mencegah dan meredakan hipertensi, hiperglikemia, hiperkolesterol itu dibicarakan. Bagaimana upaya sebelum terapi dengan obat bisa meminimalkan risiko dengan pendekatan pengaturan makanan dan minuman," katanya. (*)
Editor : Cipi Ckandina