batampos- Sejumlah mahasiswa dari Singapore Management University melakukan studi lapangan di Desa Pengudang, Kecamatan Teluk Sebong, Bintan.
Para mahasiswa tersebut mempelajari kehidupan masyarakat pesisir, konservasi lingkungan, dan ekonomi kreatif, selama tiga hari, 19 hingga 21 September 2025.
Pada hari pertama, mereka berinteraksi langsung dengan anak-anak dari masyarakat lokal seperti melakukan permainan tradisional bakiak dan gasing.
Mereka juga belajar membuat kerupuk atom, kerajinan dari daun kelapa dan bermalam di rumah-rumah warga.
Pada hari kedua, mereka melakukan tour mangrove dan edukasi tentang pentingnya ekosistem mangrove, serta monitoring penanaman mangrove yang telah dilakukan oleh warga.
Mereka juga mempelajari budidaya peternakan gamat atau tripang, yang menjadi salah satu potensi ekonomi lokal.
Kunjungan dilanjutkan dengan tour rumah Pak Madun, yang memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat lokal.
Pada malam hari, mereka melakukan tour kunang-kunang, sembari menikmati keindahan alam yang unik.
Hari ketiga, mahasiswa melanjutkan kunjungan ke desa-desa lain di Bintan seperti Desa Sri Bintan, Desa Busung, dan Desa Lancang Kuning, dengan melihat aktivitas petani muda dari Kelompok Tani Milenial Kreatif.
Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Bintan, Iwan Winarto mengatakan, bahwa kunjungan mahasiswa Singapore Management University ke desa-desa di Bintan memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat lokal.
Dengan melibatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan, kunjungan ini menciptakan efek multiflier yang dapat dirasakan dalam beberapa aspek.
Menurutnya, peningkatan ekonomi lokal menjadi salah satu dampak yang paling terasa, melalui usaha homestay, kerajinan, dan kegiatan lainnya.
"Ibu-ibu yang membuat kerajinan, bapak-bapak nelayan dan pemuda yang memandu tour mangrove, serta pelaku budidaya tripang, semua menjadi bagian dari kegiatan yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," kata pengelola Pengudang Mangrove Bintan.
Ia berharap agar kunjungan seperti ini dapat terus meningkat, dan pemerintah diharapkan dapat melakukan pemetaan potensi desa.
Salah satu mahasiswa, Karla mengatakan bahwa kehadirannya untuk melihat langsung kehidupan masyarakat dan mempelajari tentang konservasi lingkungan mangrove serta membantu ekonomi kreatif di desa.
Sementara itu, Erika, mahasiswa lainnya, merasa senang bisa berkunjung ke desa di Bintan dan disambut meriah oleh masyarakat lokal.
Ia juga gembira bisa membaur dengan masyarakat dan bermain dengan anak-anak di desa. (*)
Editor : Tunggul Manurung