Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Teh Prendjak Pindah dari Tanjungpinang, Masyarakat Soroti Harga dan Identitas

Ihsan Imaduddin • Kamis, 12 Februari 2026 | 10:00 WIB

Yolana, warga Tarempa, Anambas, mengaku khawatir harga Teh Prendjak naik setelah relokasi pabrik dari Tanjungpinang ke Jawa Tengah. F. Ihsan Imaduddin/Batam Pos.
Yolana, warga Tarempa, Anambas, mengaku khawatir harga Teh Prendjak naik setelah relokasi pabrik dari Tanjungpinang ke Jawa Tengah. F. Ihsan Imaduddin/Batam Pos.

batampos – Rencana relokasi pabrik Teh Prendjak dari Tanjungpinang, Kepulauan Riau, ke Kendal, Jawa Tengah, memicu beragam respons masyarakat. Produk yang telah diproduksi puluhan tahun di Jalan DI Panjaitan itu dinilai bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari identitas dan keseharian warga.

PT Panca Rasa Pratama selaku produsen menyatakan relokasi dilakukan sebagai langkah strategis untuk memperkuat distribusi dan meningkatkan efisiensi produksi. Namun, di sisi lain, kabar tersebut memunculkan kekhawatiran terkait potensi kenaikan harga serta hilangnya jejak industri lokal di Tanjungpinang.

Sri (55), warga Tanjungpinang, mengaku menyayangkan rencana kepindahan pabrik tersebut. Menurutnya, Teh Prendjak sudah melekat dalam tradisi masyarakat, mulai dari obrolan pagi di warung kopi hingga suguhan untuk tamu di rumah.

“Sayang juga kalau jadi pindah. Pabrik teh ini sudah lama di Tanjungpinang, bahkan puluhan tahun,” ujarnya, Rabu (11/2).

Ia berharap relokasi tidak berdampak pada kenaikan harga maupun perubahan cita rasa.

Regional Manager PT Panca Rasa Pratama, Mustardi, menegaskan relokasi bukan keputusan mudah. Namun langkah tersebut dinilai perlu untuk mendekatkan produksi dengan sumber bahan baku utama yang sebagian besar berasal dari Pulau Jawa.

“Relokasi ini bertujuan menekan biaya produksi dan memperkuat distribusi ke pasar Jawa, Kalimantan hingga Indonesia Timur. Bahan baku utama kami sebagian besar juga dari Jawa,” kata Mustardi.

Menurutnya, efisiensi rantai pasok—termasuk pengadaan daun teh dan kemasan—akan lebih optimal jika produksi berada di Jawa. Meski demikian, perusahaan memastikan identitas merek Teh Prendjak tetap dipertahankan.

“Kami tetap menjaga identitas merek yang sudah dikenal luas, termasuk di Tanjungpinang,” tegasnya.

Dampak psikologis relokasi juga dirasakan hingga wilayah perbatasan. Di Kabupaten Kepulauan Anambas, Teh Prendjak mudah ditemukan di supermarket hingga warung kecil di pelosok pulau.

Yolana (27), warga Tarempa, mengaku telah mengonsumsi Teh Prendjak sejak kecil. Ia menyebut aroma dan rasanya sudah sangat familiar.

“Saya sudah minum Teh Prendjak dari kecil. Wanginya khas dan rasanya pas,” ujarnya.

Di Anambas, harga Teh Prendjak masih tergolong terjangkau. Kemasan 25 kantong teh celup dijual sekitar Rp7 ribu, sedangkan kemasan 50 kantong sekitar Rp13 ribu. Varian seperti Lemon Tea dan Matcha dibanderol hingga Rp20 ribu.

Yolana khawatir relokasi pabrik akan berdampak pada ongkos distribusi ke daerah terluar seperti Anambas.

“Takutnya ongkos kirim makin mahal dan harga ikut naik. Semoga rasanya tetap sama dan harganya tetap terjangkau,” katanya.

Relokasi ini juga menjadi sorotan terhadap iklim investasi di Tanjungpinang. Perusahaan berharap pemerintah daerah dapat terus menciptakan iklim usaha yang kompetitif agar industri lokal tetap tumbuh.

Meski pabrik berpindah lokasi, Teh Prendjak menyatakan komitmennya menjaga kualitas dan cita rasa yang selama ini melekat di hati masyarakat. (*)

Editor : Jamil Qasim