batampos – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kepulauan Riau belum menentukan arah dukungan terhadap kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU .
PWNU Kepri memilih menunggu perkembangan dan dinamika politik organisasi hingga forum tertinggi NU tersebut digelar.
Sekretaris PWNU Kepri masa khidmat 2024–2029, H. Muhammad Kamaludin, mengatakan jajaran pengurus NU di Kepri tengah mempersiapkan konsolidasi sebelum mengikuti Muktamar NU ke-35.
Menurut dia, muktamar akan menjadi forum pengambilan keputusan penting, mulai dari pembahasan persoalan organisasi, Bahtsul Masail, hingga pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU periode berikutnya.
“Muhtamar itu adalah forum tertinggi di Jam’iyah Nahdlatul Ulama untuk mengambil keputusan-keputusan penting, di antaranya persoalan organisasi dan juga pemilihan,” kata Kamaludin saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (19/8).
Ia menjelaskan, setiap pengurus wilayah dan pengurus cabang memiliki komposisi peserta sesuai ketentuan muktamar. Lima peserta utama terdiri atas Rais Syuriyah, Katib Syuriyah, Ketua Tanfidziyah, Sekretaris, dan Bendahara.
Selain itu, PWNU Kepri akan mengikutsertakan dua peserta dalam forum Bahtsul Masail. Forum tersebut membahas berbagai persoalan kekinian menggunakan metodologi yang berlaku di lingkungan NU sebelum menghasilkan keputusan organisasi.
Mekanisme Pemilihan Rais Aam dan Ketum PBNU
Kamaludin menjelaskan, pemilihan Rais Aam PBNU memiliki mekanisme berbeda dengan pemilihan Ketua Umum PBNU.
Peserta muktamar terlebih dahulu memilih sembilan ulama yang dikenal sebagai Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Sembilan ulama tersebut kemudian bermusyawarah untuk menentukan sosok yang dinilai layak menduduki jabatan Rais Aam.
“Peserta mempercayakan kepada sembilan ulama itu untuk menentukan siapa yang sesuai dengan kriteria menjadi Rais Aam,” ujarnya.
Sementara pemilihan Ketua Umum PBNU dilakukan langsung oleh peserta muktamar dari unsur pengurus wilayah dan pengurus cabang. Mekanismenya menggunakan prinsip satu peserta satu suara sesuai ketentuan yang berlaku.
Sejumlah nama telah muncul dalam dinamika menjelang muktamar. Namun, Kamaludin menegaskan PWNU Kepri belum menetapkan dukungan kepada salah satu kandidat.
“Masih dinamis. Semua kandidat yang mencalonkan diri sebagai ketua umum hadir dan bertemu dengan pengurus di Kepri. Mereka melakukan konsolidasi dan menyampaikan visi-misi,” katanya.
Menurut dia, sejumlah kandidat telah mendatangi Batam untuk bertemu dengan pengurus NU tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota di Kepri. Namun, komunikasi tersebut belum berarti PWNU Kepri telah menjatuhkan pilihan.
“Kami masih mengikuti perkembangan yang ada, sambil melihat situasi yang berkembang di arena muktamar,” ujar Kamaludin.
Ia mengatakan keputusan mengenai dukungan akan dibahas melalui mekanisme internal dengan melibatkan jajaran Syuriyah, Tanfidziyah, serta unsur pengurus NU di Kepri.
“Kami belum bisa menyampaikan dukungan resmi karena belum ada rapat internal PWNU untuk memutuskan,” tegasnya.
Berharap Kepengurusan NU Lebih Solid
Selain soal pemilihan pimpinan, PWNU Kepri berharap Muktamar NU ke-35 menghasilkan pembaruan dalam struktur dan kepemimpinan organisasi.
Kamaludin yang juga Ketua DPRD Kota Batam mengatakan, dari berbagai aspirasi kader NU di sejumlah daerah, muncul harapan agar kepengurusan mendatang mampu membangun hubungan yang lebih solid antara jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah.
Menurut dia, perbedaan dan silang pendapat yang sempat muncul di tingkat elite kepengurusan NU menjadi salah satu catatan yang perlu dievaluasi.
“Kami berharap ke depan kepengurusan itu kompak. Kalau ada perbedaan atau silang pendapat yang terlalu terbuka, tentu itu bisa memperlambat kinerja organisasi dan menimbulkan citra yang kurang baik,” katanya.
Ia menilai NU sebagai organisasi yang dipimpin para ulama harus mampu memberikan keteladanan kepada masyarakat. Karena itu, kepengurusan mendatang diharapkan dapat menghindari konflik berkepanjangan dan lebih fokus menjalankan kerja organisasi serta pelayanan kepada umat.
PWNU Kepri berharap Muktamar NU ke-35 tidak hanya menghasilkan figur pimpinan baru, tetapi juga membawa pembaruan dan penataan organisasi.
“Yang kita harapkan adalah kepengurusan yang mampu melakukan perubahan-perubahan dalam struktur NU,” ujarnya.
Harapan tersebut, lanjut Kamaludin, berkaitan dengan besarnya jaringan NU yang membentang dari tingkat pusat, wilayah, cabang hingga Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di berbagai negara.
Karena itu, ia berharap hasil muktamar mampu memperkuat tata kelola organisasi sekaligus meningkatkan pemberdayaan warga NU.
“NU didirikan untuk memberdayakan umat agar umat lebih maju, berkembang, dan bahagia dunia maupun akhirat,” pungkasnya. (*)
Editor : Jamil Qasim