Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Waspada! Cuaca Panas Dapat Ganggu Keseimbangan Hormon

Chahaya Simanjuntak • Sabtu, 2 Mei 2026 | 23:00 WIB
Ilustrasi. Cuaca panas sering menjadi tantangan tersendiri selama menjalani puasa Ramadan.
Ilustrasi. Cuaca panas yang ternyata dapat menggangu keseimbangan hormonal.

Batampos - Cuaca panas ekstrem di berbagai negara khatulistiwa tak hanya membuat orang merasa kehausan dan takut terhadap sinar matahari karena gampang keringat berlebih. Namun di balik itu, ternyata dapat juga mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh.

"Meningkatnya suhu bukan hanya tidak nyaman, tetapi juga dapat secara signifikan mengganggu keseimbangan hormonal, terutama di negara seperti India, di mana paparan panas yang berkepanjangan semakin umum terjadi," ujar Wakil konsultan endokrinologi di Rumah Sakit Sir HN Reliance, India Dr. Rashi Agarwal seperti dilansir dari Hindustan Times, Sabtu (2/5/2026).

Agarwal mengatakan, tubuh manusia menjaga keseimbangan internal yang rumit melalui hipotalamus, regulator yang sensitif terhadap suhu yang juga mengontrol berbagai jalur hormonal. Ketika terpapar panas ekstrem, sistem ini tertekan, yang menyebabkan efek hormonal selanjutnya.

Baca Juga: Peringatan Hardiknas, Anggota Komisi X DPR RI Ini Serukan Tingkatkan Kualitas Pendidikan Nasional yang Terarah

Salah satu perubahan yang paling terlihat akibat panas ekstrem terlihat pada kortisol, hormon stres.

“Paparan panas yang terus-menerus dapat meningkatkan kadar kortisol, yang berkontribusi pada kelelahan, iritabilitas, kualitas tidur yang buruk, dan bahkan peningkatan lemak perut dari waktu ke waktu,” ucap dia.

Bersamaan dengan itu, ia mencatat, dehidrasi dan stres panas dapat juga mengganggu fungsi tiroid, memperlambat metabolisme dan menyebabkan gejala seperti lesu dan penurunan konsentrasi.

Selain itu, panas juga mempengaruhi sensitivitas insulin, sehingga orang dengan pradiabetes atau diabetes mungkin mengalami fluktuasi kadar glukosa karena dehidrasi dan perubahan kerja insulin.

Pada wanita, suhu ekstrem dapat mengganggu sumbu hipotalamus-hipofisis-ovarium. Hal ini menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur, memburuknya gejala pramenstruasi, atau gangguan kesuburan sementara.

Dampak lain yang sering diabaikan yakni gangguan keseimbangan elektrolit, yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi hormon adrenal dan bermanifestasi sebagai pusing, lemas, atau jantung berdebar.

Baca Juga: Kritik Friedrich Merz Dibalas Donald Trump, Ketegangan AS-Jerman Meningkat

Agarwal menyebutkan, terdapat beberapa tanda yang perlu diwaspadai dari cuaca panas yang ekstrem. Seperti kelelahan yang terus-menerus meskipun sudah beristirahat, gangguan tidur, perubahan suasana hati atau mudah tersinggung, menstruasi tidak teratur, perubahan nafsu makan atau berat badan yang tidak dapat dijelaskan dan kontrol glikemik yang buruk pada penderita diabetes.

Sementara beberapa tindakan pencegahan yang dapat membantu mengurangi dampak panas ekstrem yakni memastikan tubuh terhidrasi yang cukup, menghindari jam-jam puncak panas, memastikan nutrisi seimbang dengan elektrolit yang cukup dan menjaga kebersihan tidur. (*)

 

Editor : Chahaya Simanjuntak
#Keseimbangan hormonal #kesehatan #cuaca panas