batampos – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus berkembang pesat dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, muncul gelombang kekhawatiran dari kalangan generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), yang dinilai semakin skeptis terhadap perkembangan teknologi tersebut.
Berbagai survei menunjukkan bahwa optimisme awal sebagian anak muda terhadap AI mulai bergeser menjadi kecemasan. Mereka menilai teknologi ini tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga berpotensi memengaruhi kreativitas, pendidikan, lingkungan, hingga masa depan ekonomi.
Dilansir dari YourTango, berikut 10 alasan yang disebut menjadi dasar kekhawatiran Gen Z terhadap perkembangan AI.
1. Khawatir terhadap dampak AI pada perubahan iklim
Banyak anak muda menempatkan isu lingkungan sebagai perhatian utama. Sejumlah penelitian menunjukkan Gen Z merupakan generasi yang paling peduli terhadap perubahan iklim.
Di sisi lain, perkembangan AI membutuhkan pusat data (data center) dengan konsumsi energi dan air yang besar. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa penggunaan AI secara masif dapat meningkatkan jejak karbon dan memperburuk krisis lingkungan.
Baca Juga: IBU HEBRING, Bantu Ibu Hamil Atasi Trauma dan Kecemasan Persalinan
2. Dinilai mengurangi kreativitas
Sebagian Gen Z menilai AI berpotensi mengurangi proses berpikir kreatif karena menawarkan solusi instan untuk berbagai kebutuhan.
Mereka khawatir ketergantungan pada AI akan membuat masyarakat semakin jarang mengembangkan ide orisinal, sementara karya kreatif yang dihasilkan manusia menjadi kurang dihargai dibandingkan konten yang diproduksi secara otomatis.
3. Risiko penyebaran informasi palsu
Kemampuan AI menghasilkan teks, gambar, maupun video dalam waktu singkat juga memunculkan tantangan baru berupa meningkatnya penyebaran misinformasi.
Generasi muda yang aktif mengonsumsi informasi digital mengkhawatirkan semakin sulitnya membedakan informasi yang akurat dengan konten yang dibuat menggunakan AI, terutama di media sosial.
4. Mengancam kualitas pendidikan dan kemampuan berpikir kritis
AI memberikan kemudahan dalam menyelesaikan tugas akademik maupun pekerjaan sehari-hari. Namun sebagian kalangan menilai kemudahan tersebut dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis dan proses belajar yang mendalam.
Kekhawatiran ini semakin besar karena generasi yang tumbuh bersama AI berpotensi lebih memilih solusi instan dibandingkan mengembangkan kemampuan analisis secara mandiri.
5. Pengembangan AI dinilai lebih berorientasi pada keuntungan
Banyak anak muda mempertanyakan arah pengembangan AI yang dinilai lebih banyak didorong oleh kepentingan bisnis dan keuntungan ekonomi.
Mereka khawatir aspek etika, tanggung jawab sosial, serta dampak jangka panjang terhadap masyarakat tidak mendapatkan perhatian yang sama besar dibandingkan potensi keuntungan yang dihasilkan teknologi tersebut.
6. Mempersempit peluang kerja
Persaingan kerja yang semakin ketat menjadi salah satu sumber kecemasan terbesar bagi Gen Z.
Otomatisasi berbasis AI di berbagai sektor menimbulkan kekhawatiran bahwa sejumlah pekerjaan akan berkurang atau bahkan hilang. Kondisi ini membuat sebagian generasi muda merasa masa depan karier mereka semakin tidak pasti.
7. Menambah tingkat kecemasan
Berbagai laporan menunjukkan Gen Z merupakan generasi yang menghadapi tingkat stres dan kecemasan cukup tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.
Ketidakpastian yang muncul akibat perkembangan AI, mulai dari ancaman pekerjaan hingga perubahan sosial yang cepat, dianggap semakin menambah tekanan psikologis yang sudah mereka hadapi.
Baca Juga: 6 Cara Mengeringkan Pakaian Saat Musim Hujan, Cepat Kering dan Tidak Bau Apek
8. Mengurangi optimisme terhadap masa depan
Meski dikenal sebagai generasi yang adaptif terhadap teknologi, banyak anak muda tetap memiliki harapan besar terhadap masa depan.
Namun, perubahan yang dipicu AI pada sektor pendidikan, pekerjaan, dan ekonomi membuat sebagian dari mereka merasa optimisme tersebut semakin sulit diwujudkan.
9. Merasa kekhawatiran mereka kurang didengar
Gen Z kerap menyuarakan berbagai kritik terhadap dampak AI, tetapi tidak sedikit yang merasa pandangan mereka kurang mendapat perhatian.
Padahal, sebagai generasi yang akan hidup paling lama berdampingan dengan teknologi tersebut, mereka menilai memiliki kepentingan langsung terhadap berbagai keputusan terkait pengembangan AI.
10. Terpapar AI lebih intens dibanding generasi sebelumnya
Berbeda dengan generasi yang lebih tua, Gen Z tumbuh dalam lingkungan digital dan menghabiskan lebih banyak waktu di internet serta media sosial.
Akibatnya, mereka lebih sering berhadapan dengan dampak positif maupun negatif AI, mulai dari konten otomatis, berita tentang perkembangan teknologi, hingga berbagai perdebatan mengenai masa depan AI itu sendiri.
Meski demikian, para ahli menilai AI pada dasarnya merupakan alat yang dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara bijak dan diatur dengan regulasi yang tepat. Tantangan ke depan adalah bagaimana menyeimbangkan inovasi teknologi dengan perlindungan terhadap lingkungan, lapangan kerja, pendidikan, dan kepentingan masyarakat secara luas. (*)
Editor : Putut Ariyo