Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

NVIDIA Indonesia: Pengguna Perlu Memahami Batas AI Cloud dan AI Lokal

Abdul Azis Maulana • Sabtu, 4 Juli 2026 | 23:30 WIB
OpenAI & NVIDIA membentuk kemitraan strategis.
Ilustraso OpenAI & NVIDIA membentuk kemitraan strategis dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan. F Ist

Batampos - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI yang semakin masif membuka peluang besar bagi dunia usaha dan masyarakat. Namun, di balik kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan, pengguna perlu memahami perbedaan mendasar antara AI berbasis cloud dan AI yang dijalankan secara lokal (offline), terutama terkait aspek keamanan data dan biaya operasional.

County Consumer Business Lead NVIDIA Indonesia, Andrian Lesmono, mengatakan teknologi AI sejatinya bukanlah hal baru. Menurut dia, fondasi AI melalui machine learning telah dikembangkan selama lebih dari tiga dekade dan kini memasuki fase adopsi massal.

"Teknologi AI sebenarnya sudah lama. Machine learning sebagai basis AI sudah berkembang lebih dari 30 tahun. Namun, AI yang dikenal luas masyarakat baru mulai diterapkan secara masif dalam beberapa tahun terakhir," ujar Andrian, Jumat (3/7/2026).

Baca Juga: Kepri jadi Pintu Kejahatan Lintas Negara, Pengamanan di Perbatasan Diperketat

Ia menjelaskan, salah satu penerapan AI yang diperkenalkan NVIDIA kepada pasar massal dimulai pada 2018 melalui teknologi Deep Learning Super Sampling (DLSS) untuk industri gim. Sejak itu, perkembangan AI meluas ke berbagai sektor, termasuk pusat data (data center), industri kreatif, hingga layanan bisnis.

Menurut Andrian, tren pengembangan AI global saat ini didominasi oleh persaingan antarperusahaan teknologi untuk menciptakan model AI dengan kemampuan terbaik. Model-model berbasis cloud dinilai memiliki kapasitas dan kecerdasan yang lebih tinggi karena terus dilatih menggunakan sumber daya komputasi berskala besar.

"Kelebihan AI berbasis cloud adalah kemampuannya yang sangat tinggi karena perusahaan-perusahaan teknologi berlomba membangun model yang paling cerdas. Namun, pengguna juga harus memahami konsekuensinya," katanya.

Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah keamanan dan privasi data. Andrian mengingatkan agar pengguna, terutama di lingkungan perusahaan, tidak sembarangan mengunggah data internal atau informasi rahasia ke platform AI berbasis cloud.

"Pengguna harus memahami di mana data diproses dan disimpan. Jangan sampai data perusahaan yang bersifat rahasia diunggah begitu saja ke platform AI publik tanpa mempertimbangkan aspek keamanan," ujarnya.

Baca Juga: Asosiasi Ini Dorong Tai Chi jadi Bagian Wisata Olahraga Kepri

Selain persoalan privasi, Andrian menilai biaya penggunaan AI berbasis cloud akan terus meningkat seiring berkembangnya teknologi AI generatif dan agen AI (AI agent). Menurut dia, penggunaan banyak agen AI secara bersamaan akan meningkatkan kebutuhan komputasi dan konsumsi token, yang berujung pada kenaikan biaya operasional.

"Ke depan, biaya penggunaan AI bisa menjadi sangat besar karena bukan hanya satu pengguna yang mengakses model AI, tetapi juga banyak agen AI yang bekerja secara simultan untuk berbagai tugas," katanya.

Sebagai alternatif, Andrian menyoroti perkembangan AI lokal atau offline yang dijalankan langsung melalui perangkat seperti laptop maupun komputer pribadi. Meskipun kemampuan model AI lokal belum sepenuhnya menyamai AI berbasis cloud, kemajuan model open-weight seperti Qwen dan Gemma dinilai semakin mendekati kualitas model AI komersial.

"Model AI open-weight saat ini berkembang sangat cepat. Dalam beberapa kasus, kemampuan AI lokal sudah cukup untuk menjalankan berbagai pekerjaan tanpa harus selalu terhubung ke internet," ujarnya.

Keunggulan utama AI lokal, lanjut Andrian, terletak pada aspek privasi dan efisiensi biaya karena seluruh proses komputasi dilakukan di perangkat pengguna tanpa memerlukan pembayaran token atau layanan berlangganan berbasis cloud.

Ia memprediksi, pada masa mendatang, penggunaan AI akan berjalan secara hibrida, yakni menggabungkan AI berbasis cloud dan AI lokal sesuai kebutuhan masing-masing pengguna.

"Yang paling penting adalah memahami kapan harus menggunakan AI cloud dan kapan menggunakan AI lokal. Pemahaman mengenai privasi data, lokasi pemrosesan, dan biaya operasional akan menjadi fondasi utama dalam pemanfaatan AI di masa depan," kata Andrian. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#NVIDIA Indonesia #kecerdasan buatan Ai