batampos - Sebuah jaket kulit hitam yang selama ini melekat dengan penampilan CEO Nvidia, Jensen Huang, berhasil mencuri perhatian dalam sebuah lelang amal.
Nilai jualnya yang melonjak hingga US$960.000 atau sekitar Rp15,6 miliar, jauh di atas perkiraan awal rumah lelang.
Lelang yang digelar oleh Sotheby's menarik perhatian puluhan kolektor. Tercatat ada 65 penawaran dari 45 peserta sebelum akhirnya jaket itu berpindah tangan dengan harga hampir menyentuh US$1 juta.
Hasil penjualannya akan disumbangkan kepada Edge Institute, organisasi nirlaba yang mendukung inovasi di bidang teknologi, sains, dan budaya.
Jaket yang dilelang merupakan Tom Ford leather jacket yang dikenakan Huang saat menghadiri Foxconn Tech Day di Taipei pada Oktober 2023.
Baca Juga: Lelang Besar The Boys Dibuka, Kostum Homelander Asli Jadi Magnet Utama Kolektor
Sotheby's memastikan keaslian barang melalui proses photomatching oleh Professional Sports Authenticator (PSA), sementara tanda tangan Jensen Huang di bagian dalam jaket telah diautentikasi oleh James Spence Authentication (JSA).
Menurut Sotheby's, jaket ini memiliki nilai historis karena menjadi bagian dari citra publik Jensen Huang selama lebih dari satu dekade.
Gaya berpakaian sederhana dengan kaus hitam dan jaket kulit bahkan telah menjadi identitas sang CEO dalam berbagai peluncuran produk Nvidia serta konferensi teknologi dunia, terutama di tengah pesatnya perkembangan industri kecerdasan buatan (AI).
Popularitas jaket juga sempat menjadi bahan candaan di kalangan pelaku industri teknologi. Pada 2024, CEO Meta Mark Zuckerberg pernah mengunggah foto bersama Jensen Huang sambil mengenakan jaket khas masing - masing dan menyebut Huang sebagai Taylor Swift-nya dunia teknologi yang semakin mengukuhkan status ikonik busana tersebut.
Keberhasilan lelang ini menunjukkan tingginya minat kolektor terhadap memorabilia tokoh teknologi, terutama yang berkaitan dengan era kebangkitan AI.
Dengan Nvidia yang terus memimpin pasar chip AI global, berbagai barang milik Jensen Huang kini dinilai memiliki nilai sejarah sekaligus daya tarik investasi bagi para kolektor.(*)
Editor : Juliana Belence