batampos – Nasihat seperti "bersyukurlah dengan apa yang dimiliki" atau "jangan terlalu serakah" telah lama menjadi bagian dari nilai yang diajarkan di berbagai budaya. Tujuannya tentu baik, yakni menumbuhkan rasa syukur dan menghindarkan seseorang dari sifat tamak.
Namun, di balik pesan tersebut, tidak sedikit orang yang justru tumbuh dengan keyakinan bahwa menginginkan kehidupan yang lebih baik merupakan sesuatu yang keliru. Akibatnya, ketika muncul keinginan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik, penghasilan lebih tinggi, rumah yang lebih nyaman, atau hubungan yang lebih sehat, rasa bersalah pun ikut muncul.
Padahal, menurut psikologi, perasaan tersebut sering kali bukan berasal dari kenyataan, melainkan dipengaruhi pola pikir yang terbentuk sejak kecil, pengalaman hidup, hingga tekanan lingkungan.
Baca Juga: TNI AL Gagalkan Penyelundupan 42 Karung Pasir Timah di Lingga, Nilainya Capai Rp1,3 Miliar
Menginginkan kehidupan yang lebih baik tidak selalu identik dengan keserakahan. Dalam banyak kasus, hal tersebut justru merupakan bagian dari kebutuhan alami manusia untuk berkembang dan mengoptimalkan potensinya.
Mengutip Psychology Today, berikut tujuh alasan psikologis mengapa seseorang kerap merasa bersalah saat menginginkan lebih banyak dalam hidup.
1. Terbentuk Keyakinan Sejak Kecil bahwa Menginginkan Lebih Itu Serakah
Banyak orang dibesarkan dengan kalimat seperti "jangan banyak meminta", "terima saja apa adanya", atau "masih banyak orang yang hidupnya lebih susah."
Meski mengandung nilai moral yang positif, pesan tersebut dapat membentuk core beliefs atau keyakinan mendasar bahwa setiap keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup adalah bentuk ketamakan.
Akibatnya, saat dewasa seseorang merasa tidak nyaman ketika ingin mengejar promosi, meminta kenaikan gaji, atau memulai usaha baru.
Padahal, ambisi yang sehat berbeda dengan keserakahan. Ambisi mendorong seseorang berkembang tanpa merugikan orang lain, sedangkan keserakahan menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi.
2. Menganggap Rasa Syukur dan Ambisi Tidak Bisa Berjalan Bersama
Sebagian orang percaya bahwa rasa syukur dan ambisi saling bertentangan. Jika ingin sukses, dianggap kurang bersyukur. Sebaliknya, jika bersyukur, seolah tidak boleh memiliki target yang lebih tinggi.
Psikologi positif justru menunjukkan bahwa keduanya dapat berjalan beriringan.
Seseorang dapat bersyukur atas pekerjaan yang dimiliki saat ini, sekaligus berusaha memperoleh posisi yang lebih baik. Rasa syukur membantu menikmati proses, sementara ambisi memberikan arah untuk terus bertumbuh.
Baca Juga: Dishub Batam Bidik Retribusi Parkir Rp10 Miliar, Pengguna Stiker Tahunan Bebas Bayar Parkir
Masalah muncul ketika seseorang merasa harus memilih salah satunya.
3. Takut Dinilai Negatif oleh Lingkungan
Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk diterima dalam kelompok.
Karena itu, ketika lingkungan menganggap seseorang yang memiliki impian besar sebagai pribadi yang terlalu ambisius atau "lupa daratan", banyak orang akhirnya memilih menahan diri.
Bukan karena tidak mampu berkembang, melainkan karena takut dianggap berubah, sombong, atau meninggalkan orang-orang di sekitarnya.
Rasa takut terhadap penilaian sosial ini sering kali memunculkan rasa bersalah ketika ingin mengejar kehidupan yang lebih baik.
4. Mengalami Impostor Syndrome
Impostor syndrome merupakan kondisi ketika seseorang merasa dirinya tidak layak memperoleh keberhasilan.
Pikiran seperti "Aku belum cukup pintar", "Aku belum pantas mendapat gaji sebesar itu", atau "Kesuksesanku hanya karena keberuntungan" menjadi contoh pola pikir yang umum muncul.
Akibatnya, setiap kali ingin menetapkan target yang lebih tinggi, rasa bersalah muncul karena merasa belum layak.
Padahal, penelitian menunjukkan impostor syndrome juga banyak dialami oleh profesional, akademisi, hingga pemimpin perusahaan.
5. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Melalui Social Comparison Theory, psikolog Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain.
Perbandingan tersebut dapat memunculkan dua bentuk rasa bersalah.
Pertama, merasa tidak pantas menginginkan lebih karena kondisi hidup sudah lebih baik dibanding orang lain.
Kedua, merasa bersalah karena belum mencapai keberhasilan seperti yang dimiliki orang lain.
Padahal, setiap individu memiliki titik awal, peluang, dan tantangan yang berbeda sehingga membandingkan perjalanan hidup sering kali hanya memicu rasa tidak puas.
Baca Juga: 89 Calon Siswa Sekolah Rakyat Natuna Jalani Pemeriksaan Kesehatan Jelang MPLS
6. Mengaitkan Harga Diri dengan Pengorbanan
Sebagian orang dibesarkan dengan keyakinan bahwa menjadi pribadi yang baik berarti selalu mendahulukan kebutuhan orang lain.
Pola ini banyak ditemukan pada individu dengan kecenderungan people pleasing.
Ketika akhirnya ingin mengejar impian pribadi, membeli sesuatu yang diinginkan, atau mengambil peluang karier yang lebih baik, rasa bersalah pun muncul.
Padahal, memenuhi kebutuhan diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan kondisi mental yang lebih baik, seseorang biasanya mampu membantu orang lain secara lebih sehat.
7. Otak Lebih Peka terhadap Ancaman daripada Peluang
Dari sudut pandang evolusi, otak manusia memang dirancang untuk lebih cepat mengenali ancaman dibanding peluang. Fenomena ini dikenal sebagai negativity bias.
Saat seseorang ingin berkembang, otak langsung memunculkan berbagai kemungkinan buruk, seperti takut gagal, mengecewakan keluarga, memicu iri hati orang lain, atau berubah menjadi pribadi yang tidak baik.
Karena pikiran negatif muncul lebih cepat, rasa bersalah pun terasa nyata, meski belum tentu mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
Cara Mengatasi Rasa Bersalah Saat Ingin Hidup Lebih Baik
Jika Anda sering merasa bersalah karena memiliki impian yang lebih besar, beberapa langkah berikut dapat membantu:
- Bedakan antara ambisi yang sehat dan keserakahan.
- Tetap bersyukur tanpa menghentikan proses berkembang.
- Evaluasi kembali keyakinan lama yang membatasi diri.
- Kurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
- Berikan izin kepada diri sendiri untuk meraih kesuksesan dengan cara yang jujur dan bertanggung jawab.
- Ambisi dan Rasa Syukur Bisa Berjalan Bersama
Merasa bersalah karena menginginkan kehidupan yang lebih baik merupakan pengalaman yang cukup umum. Menurut psikologi, perasaan tersebut sering kali dipengaruhi pola asuh, keyakinan lama, tekanan sosial, hingga cara kerja otak yang lebih sensitif terhadap ancaman.
Karena itu, menginginkan kehidupan yang lebih baik bukan berarti tidak bersyukur. Justru, keinginan untuk berkembang merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia untuk terus belajar, bertumbuh, dan mengoptimalkan potensi diri.
Kuncinya adalah menjaga keseimbangan: tetap mensyukuri apa yang dimiliki hari ini, sambil terus berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri di masa depan. Dengan demikian, ambisi tetap sehat dan rasa syukur tidak berubah menjadi alasan untuk berhenti berkembang. (*)
Editor : Putut Ariyo