7 Kebiasaan Pria yang Kecanduan Validasi dan Sering Dilakukan Diam-Diam

jpg • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 16:01 WIB
Kebiasaan pria kecanduan validasi yang sering dilakukan diam-diam menurut psikologi / foto : Magnific/ 8photo
Kebiasaan pria kecanduan validasi yang sering dilakukan diam-diam menurut psikologi / foto : Magnific/ 8photo

batampos – Kebutuhan mendapatkan pengakuan dari orang lain merupakan hal yang wajar. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, kebutuhan tersebut dapat berkembang menjadi ketergantungan terhadap validasi eksternal.

Kondisi itu dapat terlihat dari sejumlah kebiasaan yang dilakukan secara diam-diam. Sebagian pria, misalnya, berusaha mendapatkan perhatian dan pujian, terutama dari wanita, untuk meningkatkan rasa percaya dirinya.

Dilansir dari YourTango pada Sabtu (12/9), terdapat sejumlah kebiasaan yang dapat menjadi tanda seseorang terlalu bergantung pada validasi dari orang lain.

1. Mengunggah konten demi mendapat perhatian

Mengunggah foto, aktivitas, atau pencapaian pribadi di media sosial tentu memiliki berbagai alasan. Ada yang sekadar berbagi, tetapi ada pula yang sengaja mencari perhatian dan pujian dari pengikutnya.

Kebiasaan tersebut patut diperhatikan jika seseorang terus-menerus mengunggah sesuatu hanya untuk mendapatkan respons positif, terutama dari wanita yang bahkan tidak dikenalnya.

Ketika pujian dari media sosial menjadi kebutuhan utama untuk merasa dihargai, hal itu dapat menunjukkan ketergantungan terhadap validasi eksternal.

2. Sengaja memancing pujian

Sebagian pria sengaja membicarakan pencapaian, penampilan, pekerjaan, atau kelebihan tertentu agar mendapatkan pujian dari orang lain.

Pujian memang dapat memberikan rasa senang dan meningkatkan kepercayaan diri. Namun, kebutuhan untuk terus-menerus mendapat pengakuan dapat menjadi tidak sehat jika pujian yang diterima tidak pernah terasa cukup.

Dalam kondisi tersebut, seseorang cenderung terus mencari kesempatan untuk mendapatkan apresiasi dari lingkungan sekitarnya.

3. Terus mengingat validasi dari wanita

Ada pula pria yang secara tidak sadar menjadikan interaksi dengan wanita seperti sebuah catatan skor.

Mereka mengingat siapa yang pernah memberikan pujian, seberapa sering mendapat perhatian, hingga bagaimana respons wanita tertentu terhadap dirinya.

Kebiasaan tersebut dapat menunjukkan bahwa interaksi sosial mulai dipandang sebagai sumber validasi, bukan sebagai hubungan yang dibangun secara tulus.

4. Terlalu sering memeriksa interaksi di media sosial

Kebiasaan memeriksa jumlah tanda suka, komentar, penonton cerita, atau respons terhadap unggahan juga dapat menjadi tanda seseorang terlalu bergantung pada validasi eksternal.

Hal tersebut semakin terlihat ketika seseorang terus-menerus memantau interaksi dari orang tertentu.

Ketergantungan semacam ini dapat berkaitan dengan rasa percaya diri yang rendah karena penilaian terhadap diri sendiri terlalu bergantung pada respons orang lain.

5. Mempertahankan banyak pertemanan yang tidak bermakna

Memiliki banyak teman bukanlah sesuatu yang salah. Namun, persoalannya muncul ketika pertemanan tersebut hanya dipertahankan sebagai sumber perhatian atau dukungan ketika dibutuhkan.

Pria yang haus validasi dapat memiliki banyak teman wanita, tetapi tidak benar-benar membangun kedekatan yang bermakna.

Yang lebih penting bagi mereka adalah memastikan selalu ada orang yang dapat memberikan perhatian, pujian, atau dukungan saat dibutuhkan.

6. Mengubah sikap sesuai dengan siapa yang dihadapi

Perubahan sikap dalam situasi sosial merupakan hal yang normal. Namun, jika seseorang terus-menerus mengubah kepribadian agar disukai orang tertentu, hal itu dapat menjadi tanda dirinya terlalu membutuhkan penerimaan.

Pria yang mencari validasi dapat menyesuaikan cara berbicara, minat, hingga perilakunya berdasarkan wanita yang sedang dihadapinya.

Tujuannya adalah mendapatkan perhatian dan memastikan dirinya diterima.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki rasa percaya diri cenderung lebih nyaman menjadi dirinya sendiri tanpa harus terus menyesuaikan diri demi mendapatkan pengakuan.

7. Hanya percaya diri ketika mendapat perhatian

Salah satu tanda paling jelas dari ketergantungan terhadap validasi adalah ketika rasa percaya diri sepenuhnya ditentukan oleh respons orang lain.

Pria dengan kondisi seperti ini dapat merasa sangat percaya diri ketika mendapatkan perhatian yang diinginkan. Namun, perasaan tersebut dapat berubah menjadi kecewa, minder, atau tidak berharga ketika perhatian yang diharapkan tidak kunjung datang.

Akibatnya, kondisi emosional mudah berubah mengikuti seberapa banyak perhatian dan pengakuan yang diterima.

Jika berlangsung terus-menerus, ketergantungan tersebut dapat membuat seseorang kesulitan membangun rasa percaya diri yang berasal dari dalam dirinya sendiri. (*)

Editor : Jamil Qasim
7 kebiasaan pria kebutuhan