Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Keindahan Gerbang Lampu Colok Meriahkan Malam ke 27 Ramadan 

Vatawari BP • Jumat, 28 Maret 2025 | 10:00 WIB
Suasana Malam Tujuh Likur di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Rabu (26/3).
Suasana Malam Tujuh Likur di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Rabu (26/3).

batampos- Kabupaten Lingga merupakan salah satu Daerah yang memiliki banyak tradisi budaya lokal. Salah satu dari tradisi budaya masyarakat muslim Kabupaten Lingga adalah peringatan malam ke 27 Ramadan atau dikenal dengan masyarakat setempat sebagai malam tujuh likur.

Adapun tradisi budaya dalam peringatan malam tujuh Likur oleh masyarakat Dabo Singkep, Kabupaten Lingga adalah dengan menampilkan gerbang yang dihiasi lampu colok (lampu minyak tanah) dengan berbagai bentuk yang memadukan antara nilai kesenian dan religi. Pemandangan ini menjadikan Susana malam Tujuh Likur di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga menjadi meriah pada Rabu (26/3).

Pantauan Batampos, hampir di setiap Desa mapuan Kelurahan yang ada di Dabo Singkep menyuguhkan keindahan Gerbang Lampu Colok yang dibuat dengan ide dan kreatifitas mereka masing-masing. Tidak hanya disuguhkan dengan keindahan gerbang lampu colok, setiap pengunjung yang datang untuk melihat pesona gerbang lampu colok ini juga disuguhkan dengan berbagai makanan khas Melayu oleh warga setempat.

Ribuan warga memadati jalan-jalan kota untuk menyaksikan pesona gerbang lampu colok yang ada di berbagai titik. Kendaraan roda dua dan empat ramai berkeliling, menciptakan atmosfer hangat kebersamaan di tengah malam penuh hikmah ini. Namun demikian, kondisi ini tidak menimbulkan kegaduhan dan semuanya berjalan damai dan aman.

Masdelima, salah seorang warga yang datang berkunjung untuk melihat keindahan Gerbang Lampu Colok di kelurahan Sungai Lumpur mengatakan dirinya sangat bahagia dan bersyukur karena masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati kemeriahan malam tujuh likur dengan berbagai macam keindahan bentuk dari hiasan gerbang lampu colok ini.

"Alhamdulillah, saya merasa sangat bahagia pad malam ini masih dapat melihat semarak malam tujuh likur. Mungkin saat ini banyak orang atau saudara kita lagi sibuk dengan aktivitas Mudik lebaran dengan lalulintas yang padat, namun kita di sini dapat menikmati kemeriahan malam tujuh likur dengan kegembiraan yang dibingkai dengan kebersamaan," ujar Masdelima saat diwawancarai Batampos pada Rabu malam (26/3).

Selanjutnya, Arispita warga yang juga datang berkunjung untuk melihat keindahan gerbang lampu colok yang berada di Sekop Darat mengungkapkan, tradisi malam tujuh likur ini merupakan salah satu tradisi yang sangat kami rindukan. Tradisi ini juga menjadi penyebab kenapa kami berusasah payah untuk Mudik Lebaran di kampung halaman karena memang tradisi semacam ini sangat jarang kita temukan di Daerah lain.

"Momen ini menjadi sebuah momen yang kami rindukan dan kami nanti-nantikan saat kami berada di rantauan. Momen ini juga menjadi penyemangat buat kami yang berada di rantauan untuk Mudik Lebaran ke kampung halaman agar bisa menikmati kemeriahan malam Tujuh Likur bersama keluarga dan sanak saudara," ungkap Arispita.

Arispita menambahkan, agar tradisi ini untuk terus dijaga dan dilestarikan. Hal ini dikarenakan tradisi malam tujuh likur menjadi salah satu warisan budaya dari para leluhur terdahulu dari generasi ke generasi.

"Saya berharap kita semuanya dapat tersusun menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur kita dari generasi ke generasi ini agar terus berlanjut," tambahnya.

Malam tujuh likur di Dabo Singkep bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bukti harmoni antara budaya, keimanan, dan kebersamaan. Pesona lampu colok yang berkelap-kelip seakan mengajak semua untuk merenung bahwa tradisi tak pernah mati selama ia terus dijaga di hati masyarakat. (*)

 

Editor : Tunggul Manurung
#lampu colok