Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Galungan, Makna dan Sejarah Perayaannya bagi Hindu Bali

Khansa Maritza • Kamis, 10 Oktober 2024 | 08:05 WIB

ILUSTRASI Hari raya Galungan di Bali. F Bing
ILUSTRASI Hari raya Galungan di Bali. F Bing

Batampos-  Hari Raya Galungan merupakan salah satu perayaan keagamaan terbesar bagi umat Hindu di Bali. Dirayakan setiap 210 hari menurut kalender Bali (Pawukon), Galungan menandai kemenangan kebenaran (Dharma) atas kejahatan (Adharma). Pada saat ini, umat Hindu di Bali memperingati penciptaan alam semesta beserta isinya, serta bersyukur kepada Tuhan atas segala karunia yang telah diberikan.

Sejarah dan Makna Hari Raya Galungan

Menurut kepercayaan Hindu di Bali, Hari Raya Galungan berasal dari legenda tentang pertempuran antara Raja Mayadenawa, penguasa yang kejam dan adharma, dengan Dewa Indra yang mewakili dharma. Pertempuran ini melambangkan kemenangan kebenaran dan keharmonisan atas kejahatan. Sejarah ini memberikan pelajaran kepada umat Hindu tentang pentingnya hidup dalam kebenaran, menjaga harmoni, dan melawan segala bentuk ketidakbenaran.

Secara filosofis, Galungan melambangkan kebangkitan kesadaran manusia untuk kembali kepada sifat-sifat ketuhanan yang ada dalam diri setiap individu. Ini juga merupakan momen introspeksi dan perenungan, di mana umat Hindu merenungkan sejauh mana mereka menjalani hidup sesuai dengan ajaran dharma.

Persiapan Menjelang Galungan

Persiapan untuk Hari Raya Galungan dimulai beberapa hari sebelumnya, dengan berbagai tahapan yang penting secara ritual maupun budaya. Berikut adalah beberapa tahapan penting dalam persiapan Galungan:

  1. Penampahan Galungan (H-1): Pada hari ini, umat Hindu melakukan penyembelihan hewan, seperti babi, yang kemudian dagingnya diolah menjadi hidangan khas seperti lawar dan satay. Penampahan juga menjadi simbolisasi pengendalian sifat-sifat adharma dalam diri, terutama sifat kemarahan, keserakahan, dan kebodohan.
  2. Pemasangan Penjor: Penjor adalah batang bambu panjang yang dihias dengan janur, buah-buahan, hasil bumi, dan kain. Penjor melambangkan kemakmuran dan persembahan kepada Tuhan atas berkat-Nya. Setiap rumah Hindu di Bali memasang penjor di depan rumah sebagai tanda penghormatan dan rasa syukur.

Rangkaian Hari Raya Galungan

Pada Hari Raya Galungan, umat Hindu akan memulai hari dengan sembahyang di pura-pura dan merayakannya bersama keluarga. Berikut adalah beberapa kegiatan penting yang dilakukan:

  1. Sembahyang di Pura: Umat Hindu mengunjungi pura keluarga dan pura desa untuk melakukan persembahan. Mereka membawa banten (sesaji) sebagai wujud bakti dan syukur kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan).
  2. Mengunjungi Leluhur: Setelah sembahyang di pura, keluarga akan berziarah ke kuburan leluhur mereka dan melakukan persembahan di sana. Ini adalah bentuk penghormatan kepada arwah leluhur yang diyakini turun ke bumi selama periode Galungan.
  3. Tradisi Berkunjung: Umat Hindu juga akan mengunjungi sanak saudara dan kerabat, serta saling berbagi kebahagiaan. Tradisi ini mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan dalam masyarakat Bali.

Sepuluh hari setelah Galungan, umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan. Kuningan merupakan penutup dari rangkaian perayaan Galungan dan menandai kembalinya roh leluhur ke alam keabadian. Pada Hari Raya Kuningan, umat Hindu kembali melakukan persembahan dan sembahyang, serta memohon berkah keselamatan dan kemakmuran. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#hari raya galungan #galungan #bali #wisata bali #hindu bali