Batampos – Tallow atau lemak hewani murni tengah naik daun di dunia kecantikan yang mengutamakan kealamian, saat ini. Banyak yang memuji manfaatnya untuk kulit dan rambut.
Namun kehadiran tallow juga memicu perdebatan etika, terutama di kalangan vegan, pecinta hewan, dan konsumen yang peduli terhadap aspek keberlanjutan.
Lantas, bagaimana sebenarnya kontroversi tallow ini terjadi, dan apa respons industri kecantikan?
Tallow adalah lemak yang berasal dari hewan, umumnya sapi atau domba, yang telah melalui proses pemurnian. Dalam kosmetik, tallow digunakan sebagai pelembap alami karena kandungan asam lemak esensial dan vitamin yang tinggi, serta kemampuannya meniru sebum alami kulit manusia.
Namun, karena berasal dari hewan, penggunaan tallow memicu isunya sendiri dalam hal etika dan keberlanjutan.
Pro dan Kontra Penggunaan Tallow
Pro untuk Keunggulan
- Bersifat natural dan minim proses kimia
- Kaya akan vitamin A, D, E, dan K yang sangat baik untuk regenerasi kulit
- Ramah kulit sensitif dan mudah terurai (biodegradable)
- Dapat dimanfaatkan dari limbah dapur rumah potong hewan, sehingga mencegah pemborosan
Kontra Tallow
- Berasal dari hewan, sehingga ditolak oleh penganut veganisme atau mereka yang menolak produk hewani dalam kosmetik
- Dikhawatirkan berasal dari praktik peternakan intensif yang tidak etis
- Tidak selalu cruelty-free (tergantung proses penyediaan bahan baku)
Beberapa produsen tallow balm menegaskan, tallow yang mereka gunakan merupakan produk sampingan dari industri pangan, bukan hasil eksploitasi tambahan. Dalam pandangan ini, tallow dianggap sebagai bentuk pemanfaatan limbah organik, sejalan dengan prinsip zero waste dan keberlanjutan.
Baca Juga: RSUD Tanjungbatu Kurang Dokter, Pemkab Karimun Kirim Dokter dari RSUD M Sani
Namun, kelompok vegan menilai, penggunaan tallow tetap mendukung sistem industri peternakan yang dianggap tidak etis terhadap hewan, apapun bentuknya. Oleh karena itu, banyak dari mereka lebih memilih alternatif berbasis tumbuhan.
Menanggapi pro dan kontra tallow ini, banyak produsen kosmetik kini menghadirkan dua jalur:
- Produk berbasis tallow untuk pasar natural & tradisional
Brand sepertiToups & Co atau Vintage Tradition mengandalkan tallow grass-fed organik, dengan transparansi tinggi soal sumber dan proses produksi.
- Alternatif vegan untuk pasar modern & etis
Brand sepertiHerbivore Botanicals atau Biossance memilih menggunakan plant-based emollients seperti shea butter, squalene dari tebu, cocoa butter, dan jojoba oil.
Selain itu, beberapa brand juga mencantukmkan label, seperti Cruelty-free atau tidak diuji pada hewan, vegan, atau Ethically sourced atau bahan baku berasal dari praktik yang berkelanjutan dan manusiawi. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak