Namun, satu hal yang sering menimbulkan pertanyaan adalah, mengapa buah ini juga disebut “jambu monyet”? Apakah ada hubungannya dengan hewan primata tersebut?
Yuk, kita telusuri asal-usul sebutan unik ini!
Asal Usul Nama “Jambu Monyet”
Nama “jambu monyet” sebenarnya bukan berasal dari spesies botani atau ilmiah. Melainkan dari pengamatan masyarakat terhadap bentuk buahnya. Jika kamu perhatikan, bentuk buah jambu mete sangat unik dan tidak seperti buah pada umumnya:
- Buah berdaging yang disebut buah semu (berwarna merah atau kuning) tumbuh di atas.
- Biji mete justru tumbuh menonjol di bagian bawah buah, seolah-olah “menempel” di luar.
Nah, dari sinilah muncul nama “jambu monyet” karena masyarakat mengibaratkan biji mete yang menonjol itu seperti ekor monyet. Buahnya seakan-akan punya “buntut”, dan terlihat lucu seperti siluet tubuh seekor monyet yang bergantung.
Apakah Monyet Suka Buah Ini?
Menariknya, dalam beberapa tradisi lokal, diyakini bahwa monyet liar memang suka memakan buah jambu ini, khususnya bagian daging buahnya yang manis dan berair. Hal ini semakin menguatkan asosiasi masyarakat terhadap sebutan “jambu monyet.”
Nama Lain di Daerah dan Dunia
- Di Indonesia, selain disebut jambu monyet, buah ini juga dikenal sebagai jambu mede atau jambu mete.
- Dalam bahasa Inggris, buah ini dikenal sebagai cashew apple, dan bijinya disebut cashew nut.
- Di daerah Sulawesi dan Nusa Tenggara, nama-nama lokal seperti “jambu kenari” juga digunakan.
Nama Ilmiah dan Asal Usulnya
Secara ilmiah, tanaman ini bernama Anacardium occidentale dan berasal dari Brasil. Tanaman ini menyebar ke berbagai negara tropis, termasuk Indonesia, melalui perdagangan kolonial. Meski berasal dari Amerika Selatan, masyarakat Indonesia memiliki hubungan budaya yang unik dengan buah ini, termasuk dalam penamaan lokalnya.
Jadi, sebutan “jambu monyet” muncul karena bentuk buahnya yang menyerupai monyet — khususnya biji mete yang menjuntai di bawah buah seperti ekor. Selain faktor bentuk, diyakini juga bahwa monyet menyukai buah ini, yang makin memperkuat penamaan tersebut secara tradisional. (*)
Editor : Ichwanul Fazmi