Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Ini Alasan Kelompok Gen Z Guncang Tatanan Pemerintahan Nepal

Chahaya Simanjuntak • Jumat, 12 September 2025 | 18:59 WIB
KERUSUHAN di Nepal, dimana sejumlah warga memasuki kompleks kantor pemerintahan PM KP Sharma Oli dan membakarnya, Selasa (9/9/2025) lalu. F Adnan Abidi/Reuters
KERUSUHAN di Nepal, dimana sejumlah warga memasuki kompleks kantor pemerintahan PM KP Sharma Oli dan membakarnya, Selasa (9/9/2025) lalu. F Adnan Abidi/Reuters

Batampos - Nepal menjadi sorotan dunia internasiona dalam beberapa hari terakhir. Negeri di atap dunia itu menghadapi krisis politik terparah dalam sejarah modern ini. Gelombang protes dari warga kelompok Gen Z mengguncang tatanan pemerintahannya dengan cara tak biasa.

Keputusan pemerintah melarang platform media sosial justru memperburuk keadaan. Alih-alih meredam keresahan, langkah itu memicu kemarahan publik yang meluas, karena media sosial telah menjadi ruang utama anak muda untuk menyuarakan aspirasi.

Krisis ini bukan hanya masalah internal, tetapi juga cermin pergulatan negara berkembang dalam merespons perubahan sosial dan generasi yang semakin melek teknologi. Anak muda Nepal menuntut perubahan nyata, mereka sudah sangat muak dengan keberadaan para pejabatnya yang korup di tengah kondisi masyarakat yang semakin susah dengan harga-harga kebutuhan pokok yang selalu naik.

Baca Juga: Dari Lokal hingga Mancanegara, Lomba Gasing Pulau Penyengat Jadi Pusat Perhatian

Fenomena demonstrasi fatal di Nepal ini tidak muncul tiba-tiba. Ada sejumlah faktor mendasar yang membuat generasi muda merasa muak terhadap kondisi politik dan sosial negaranya. Apa saja itu? Berikut jawabannya seperti dilansir dari Reuters, yakni :

- Kesenjangan Sosial dan Ekonomi

Perbedaan mencolok antara gaya hidup mewah elite politik yang kerap dipamerkan di media sosial dengan kondisi rakyat sehari-hari menimbulkan rasa frustrasi. Generasi muda melihat adanya jurang besar antara janji politik dan kenyataan di lapangan.

- Korupsi dan Nepotisme yang Mengakar

Korupsi yang terus berlangsung menambah ketidakpercayaan publik. Nepotisme dalam jabatan pemerintahan semakin mempersempit peluang bagi anak muda untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

- Pengangguran dan Kurangnya Kesempatan Ekonomi

Tingginya angka pengangguran, terutama di kalangan pemuda, mendorong banyak warga Nepal memilih bekerja di luar negeri. Ketergantungan pada remitansi (uang kiriman pekerja migran) cukup menopang ekonomi, tetapi hal ini menunjukkan minimnya kesempatan kerja yang layak di dalam negeri.

Gerakan yang dipelopori oleh kelompok Generasi Z ini telah memunculkan berbagai dampak besar, baik secara politik maupun sosial, seperti:

- Kerusuhan dan Kekerasan

Demonstrasi besar-besaran memicu bentrokan dengan aparat keamanan. Penggunaan gas air mata, penangkapan, hingga jatuhnya korban jiwa menunjukkan betapa seriusnya eskalasi konflik.

- Respon Pemerintah

Baca Juga: Pemilik dalam Penyelidikan, Nahkoda KM Maju, Pengangkut Pasir Timah 20 Ton jadi Tersangka  
Tekanan publik membuat pemerintah akhirnya mencabut larangan media sosial. Perdana Menteri K.P. Sharma Oli pun mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab politik. Bahkan beberapa menteri di pemerintahan negara itu mendapatkan siksaan dari masyarakat, termasuk menteri keuangannya, Bishnu Prasad Paudel.

- Pemimpin Sementara

Setelah kejatuhan pemerintahan, muncul perbincangan tentang figur alternatif dalam memimpin pemerintahan sementara. Salah satu nama yang mencuat adalah mantan Ketua Mahkamah Agung,Sushila Karki, yang dianggap sebagai sosok netral dan kredibel.

Meski berhasil memaksa pemerintah melakukan perubahan jangka pendek, jalan menuju reformasi sejati di Nepal masih panjang. Ada beberapa tantangan besar yang harus dihadapi:

1. Menjaga Keamanan dan HAM

Demonstrasi damai sering kali berujung bentrokan. Perlindungan terhadap hak asasi manusia menjadi kunci agar protes tidak berubah menjadi kekerasan berkepanjangan.

2. Pemilu atau Pemerintahan Sementara yang Kredibel

Nepal membutuhkan proses politik yang transparan, bebas intervensi, dan dapat dipercaya semua pihak. Tanpa itu, krisis bisa berulang.

3. Menjembatani Aspirasi Generasi Muda dan Institusi

Gen Z menuntut perubahan cepat, sementara birokrasi pemerintahan berjalan lambat. Menemukan titik temu di antara keduanya menjadi tantangan serius.

4. Pemulihan Kepercayaan Publik

Sistem politik Nepal sudah lama kehilangan kepercayaan masyarakat. Butuh kepemimpinan baru yang mampu membawa harapan dan membuktikan bahwa perubahan nyata bisa diwujudkan.

Kebangkitan Gen Z di Nepal menunjukkan, anak muda tidak lagi ingin sekadar menjadi penonton dalam politik. Dengan keberanian memanfaatkan media sosial dan solidaritas yang kuat, mereka berhasil mengguncang sistem yang selama ini stagnan dan korup.

Namun, oleh sejumlah pengamat masih mempertanyakan kekonsistenan para Gen Z mengawal perubahan di negara itu. Apakah krisis ini akan menjadi pintu masuk bagi reformasi struktural atau hanya berakhir sebagai siklus lama politik yang penuh kompromi? (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#International #Gen Z #nepal #Krisis Politik Nepal