batampos - Kepulauan Riau menjadi salah satu daerah dengan warisan sejarah yang kaya. Kepulauan Riau memiliki pahlawan nasional yang berjasa besar bagi bangsa Indonesia melalui perjuangan fisik maupun karyanya.
Tiga pahlawan nasional tersebut menjadi sosok yang selalu dikenang atas jasanya.
3 Pahlawan Nasional Asal Kepulauan Riau yang Berjasa
1. Raja Haji Fisabilillah
Raja Haji Fisabilillah merupakan pahlawan nasional yang gugur dalam perang melawan Belanda pada 18 Juni 1784. Ia menjabat sebagai Yang di-Pertuan Muda ke-4 Kerajaan Riau - Lingga - Johor pada 1777 - 1784.
Puncak perang terjadi pada 6 Januari 1784, saat pasukan Raja Haji Fisabilillah berhasil menenggelamkan kapal komando Belanda dan menewaskan pimpinan eskader Belanda.
Belanda kemudian menarik pasukannya ke Melaka, tetapi Raja Haji Fisabilillah melakukan serangan balik.
Pada 18 Juni 1784, perang sosoh yaitu perang satu lawan satu terjadi dan 500 pasukan gugur. Jenazah Raja Haji Fisabilillah dimakankan di Bukit Bendera Malaka, Malaysia, tetapi dipindahkan ke Pulau Penyengat oleh anaknya Raja Jakfar.
Peristiwa 6 Januari 1784 diabadikan menjadi Hari jadi Kota Tanjungpinang. Melalui Keputusan Presiden RI No. 072/TK/1997 tanggal 11 Agustus 1997, Raja Haji Fisabilillah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
2. Raja Ali Haji
Raja Ali Hajin bin Raja Haji Ahmad dikenal dengan nama pena Raja Ali Haji. Lahir di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, pada tahun 1803.
Ia dikenal sebagai ulama, sastrawan, dan budayawan Melayu melalui karyanya. Karyanya Gurindam Dua Belas menjadi tonggak sastra Melayu dan kontribusi penting bagi bahasa Indonesia.
Raja Ali Haji terkenal sebagai pencatat pertama dasar - dasar tata bahasa Melayu dari buku Pedoman Bahasa. Buku tersebut ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia.
Raja Ali Haji merupakan keturunan kedua cucu dari Raja Haji Fisabilillah, Yang di-Pertuan Muda ke-4 Kerajaan Riau - Lingga - Johor. Pada tahun 2004, melalui Keputusan Presiden, Raja Ali Haji ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dengan julukan "Bapak Bahasa Indonesia".
3. Sultan Mahmud Riayat Syah
Sultan Mahmud Riayat Syah merupakan Sultan ke-3 dari Kesultanan Riau - Lingga - Johor - Pahang yang memerintah pada masa akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19.
Perjuangan Sultan Mahmud Riayat Syah melawan Belanda dalam sejarah perlawanan di Nusantara. Sultan Mahmud Riayat Syah memperkuat posisi kesultanan dengan politik regional dan ancaman ekspansi kolonial.
Ia menyadari pentingnya stabilitas internal dan mengkonsolidasi kekuatan militer, terutama angkatan laut mengingat letak geografis kesultanan yang didominasi oleh perairan.
Sultan Mahmud Riayat Syah menerapkan taktik perang gerilya laut melawan Belanda. Taktik ini merepotkan Belanda dan menguras sumber daya mereka.
Perjuangan Sultan Mahmud Riayat Syah sangat gigih membuat ia harus mundur, karena kekuatan militer VOC lebih superior. Kekalahan pada tahun 1784 di Tanjungpinang dan perjanjian yang merugikan membuat ia mengasingkan diri ke Trengganu, lalu ke Sungai Ular dan Lingga.
Pada 9 November 2017, Sultan Mahmud Riayat Syah resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 115/TK 2017.
Ketiga pahlawan dari Kepulauan Riau berjuang melalui bidang budaya, keilmuan, dan perjuangan kemerdekaan.
Warisan mereka sampai saat ini masih dirasakan yang bisa menjadi inspirasi generasi saat ini.(*)
Editor : Juliana Belence