Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Guru di Manhattan Didiagnosis Diabetes Tipe 2, Enam Bulan Kemudian Hasil Darahnya Kembali Normal Berkat Kebiasaan Ini

Chahaya Simanjuntak • Senin, 1 Desember 2025 | 14:17 WIB

PEDRO Soto, 56, sembuh dari diabetes tipe 2.
PEDRO Soto, 56, sembuh dari diabetes tipe 2.

Batampos - Pedro Soto, 56, seorang guru di Manhattan berharap kisah perjuangannya menghadapi penyakit Lyme dan diabetes tipe 2 dapat menginspirasi banyak orang.

Pedro Soto awalnya hanya mengalami sakit tenggorokan dan memutuskan pergi ke dokter karena mengira terkena infeksi virus. Namun hasil tes darah menunjukkan hal berbeda. Pada April 2024, guru berusia 56 tahun itu pun didiagnosis Diabetes tipe 2.

Dokternya menyarankan pengobatan untuk mengendalikan kondisinya, tetapi Soto memilih mengubah gaya hidup terlebih dahulu. "Setelah menerima kabar itu, saya memutuskan untuk tidak langsung memulai perawatan medis, melainkan saya berkomitmen olahraga dua kali seminggu dan memperbaiki pola makan," ujar Soto seperti dikutip dari People, Senin (1/12/2025).

Pilihan itu mengubah hidupnya.

Terinspirasi dari rekan kerjanya yang suaminya mengikuti marathon, Soto mendaftar TCS NYC Marathon melalui jalur khusus guru. Ia menulis esai tentang diagnosis yang ia alami dan akhirnya terpilih.

Sambil berlatih dan mulai membangun kebiasaan berlari, ia terus menjalani pemeriksaan darah secara berkala. " Saya cek tes darah setiap tiga bulan, dan itu membuat perbedaan besar. Tiga bulan kemudian hasil saya sudah normal. Gula darah saya normal, mendekati prediabetes, tetapi normal," ujarnya haru.

Baca Juga: BC Batam Belum Tau Siapa Pemilik Barang, Tangkapan Selundupan Bahan Pokok di Pelabuhan Sengkuang

Yale School of Medicine mencatat, diabetes tipe dua merupakan kondisi kronis di saat tubuh penderitanya tidak dapat merespons insulin dengan baik sehingga gula darah tinggi. Penyakit ini tidak dapat benar-benar disembuhkan.

Maraton berlangsung pada 2 November 2025 di New York City. Soto baru bisa serius berlatih pada awal Agustus karena pada Juni ia juga didiagnosis mengidap penyakit Lyme. Pada periode yang sama, ayahnya meninggal.

Ia menggunakan sesi latihannya untuk memproses perasaan dan membangun kembali kekuatannya setelah sakit.

"Saya sedang berduka, dan cara saya berduka adalah lewat berlari, memberi waktu berkualitas untuk berpikir. Saya berlari untuk menghadapi perasaan, pikiran, dan berdamai dengan diri sendiri serta ayah saya. Tidak kebetulan saya harus berlari dan berlatih saat itu. Itu sangat membantu proses kehilangan saya," ungkapnya.

Soto mengaku tak sepenuhnya tahu apa yang menantinya saat lomba, tetapi ia melakukan riset dengan menonton video dan membaca.

"Bagi saya, itu luar biasa. Rasanya seperti pesta blok, tapi pesta itu satu kota penuh. Selama lomba, pasti ada rasa sakit. Anda menghantam ligamen, sendi, tulang, dan otot yang sama selama berjam-jam," ujarnya.

"Rasa sakit pasti muncul, tetapi suara kerumunan, musik, sorakan orang-orang, semuanya lebih keras dari rasa sakitmu," tambahnya.

Yang membuatnya terus berlari adalah motivasi dari para siswanya. "Enam mil terakhir, pikiran mulai menyabotase: kenapa kamu melakukan ini? Kamu bisa berhenti kapan saja tapi saya memikirkan siswa-siswa saya," ujarnya.

Baca Juga: DPRD Sepakati Bersama Pemkab Anambas APBD Tahun 2026 Sebesar Rp 840 Miliar

Soto bekerja sebagai guru dengan kelompok siswa khusus dalam program transfer yang sebelumnya tidak berhasil di sistem sekolah pedesaan.

"Kami membawa mereka kembali ke sekolah dengan pendekatan alternatif, pedagogi, dan aktivitas yang melibatkan mereka. Mereka mengalami banyak hal. Setiap dari mereka punya alasan, bukan hanya satu, tapi banyak. Saya sering berpikir, jika mereka bisa menghadapi rasa sakit yang mereka alami ketika datang ke sekolah, saya juga bisa," jelasnya.

"Saya selalu berpikir, saya capek, saya kesakitan. Tapi mereka bisa melakukannya setiap hari. Saya bisa bertahan satu sampai dua jam lagi. Mereka adalah inspirasi saya. Saya tahu betapa berat hidup mereka… tapi mereka tetap datang ke sekolah dan berusaha," ungkapnya.

Rata-rata usia siswanya 17 tahun, dengan beberapa berusia 19 atau 20. Selain menjadi motivasinya mengikuti lomba, para siswa juga mendorong Soto untuk menjaga kesehatannya.

"Jika saya dalam kondisi lebih baik, itu akan berdampak baik bagi siswa. Jika saya sakit, sering absen, lelah, dan tidak enak badan, itu akan memengaruhi kualitas instruksi saya, hubungan saya dengan siswa, dan akhirnya kualitas saya sebagai guru," ujarnya.

Guru bisa burnout karena kadang mereka tidak menyeimbangkan hidup. Maraton memberi Soto kesempatan untuk menyeimbangkan hidup. "Kadang kita perlu memperjuangkan diri sendiri dan menempatkan diri di prioritas utama. Ini menjadi kesempatan besar bagi saya untuk melakukan itu," tutupnya. (*)

 

Editor : Chahaya Simanjuntak
#kesehatan #penyakit lyme #kisah inspirasi #Pedro Soto #diabetes tipe 2