Batampos - Pohon Natal menjadi dekorasi wajib di banyak rumah dan ruang publik saat Desember tiba. Namun, di tengah meningkatnya kesadaran akan isu lingkungan, muncul ide penggunaan cemara asli menjadi pohon natal.
Namun, bagaimana dengan di Indonesia? Perdebatan ini tidak hanya soal estetika dan kepraktisan, tetapi juga menyangkut dampak ekologis jangka panjang.
Pohon natal asli umumnya berasal dari jenis cemara atau pinus yang ditanam khusus untuk keperluan komersial. Selama masa pertumbuhannya, pohon ini menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen, sehingga berkontribusi positif bagi lingkungan.
Selain itu, pohon ini juga bersifat biodegradable dan dapat didaur ulang menjadi kompos. Di sejumlah negara, pemerintah daerah bahkan menyediakan layanan khusus mendaur ulang pohon tersebut setelah Natal usai.
Namun, dampak lingkungan tetap ada, terutama jika pohon ditebang secara ilegal, diangkut jarak jauh, atau berakhir di tempat pembuangan sampah tanpa proses daur ulang yang tepat.
Di Indonesia, pohon natal sebagai dekorasi rumah, banyak terbuat dari plastik PVC dan logam, dengan sebagian besar produksinya dilakukan di luar negeri, khususnya di Tiongkok. Proses pembuatan dan pengiriman pohon buatan ini menghasilkan jejak karbon yang cukup besar.
Ada pun keunggulan pohon natal buatan adalah dapat digunakan berulang dalam jangka panjang, minimal 10 tahun,. Dengan begini, dampak kerusakan lingkungannya bisa ditekan. Namun, masalah muncul ketika pohon buatan dibuang, karena materialnya sulit terurai dan jarang bisa didaur ulang.
Para ahli lingkungan menyarankan, konsumen menyesuaikan pilihan dengan gaya hidup masing-masing. Membeli Pohon Natal asli dari sumber berkelanjutan atau menggunakan pohon buatan yang sama selama bertahun-tahun merupakan langkah kecil namun berdampak besar bagi lingkungan.
Natal bukan hanya soal perayaan, tetapi juga tentang tanggung jawab menjaga bumi. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak