batampos - Modus penipuan online yang dikenal sebagai Pig Butchering menjadi ancaman serius di era digital dengan memanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk menipu korban.
Skema ini menggabungkan pendekatan emosional, seperti hubungan asmara palsu, dengan tawaran investasi fiktif yang berujung pada pengurasan dana korban.
Korban akan didorong untuk mengirim uang atau berinvestasi di platform palsu yang dikendalikan penipu.
Istilah pig butchering menggambarkan bagaimana korban diberi makan kepercayaan sebelum akhirnya uang mereka habis diambil oleh pelaku.
"Pig butchering sering dimulai dengan pesan acak di media sosial atau aplikasi kencan. Pelaku coba membangun hubungan emosional yang cepat dan intens agar korban merasa percaya," kata otoritas anti penipuan di Washington State Department of Financial Institutions (DFI), dikutip dari WSDFI, Kamis (29/1).
Dalam laporan tahun 2025 dari perusahaan riset blockchain Chainalysis, pig butchering terbukti menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kerugian dari penipuan kripto dengan pendapat global mencapai miliaran dolar.
Kejahatan ini tumbuh hampir 40% dari tahun ke tahun. Pelaku memanfaatkan teknologi seperti generatif AI untuk memproduksi identitas palsu dan konten yang lebih meyakinkan bagi korban.
Kasus nyata menunjukkan dampak skema ini bisa sangat besar.
Seorang spesialis TI di Amerika Serikat kehilangan tabungan hidupnya sekitar $280.000 setelah berbulan - bulan berkomunikasi dengan orang yang mengaku tertarik secara romantis sebelum memperkenalkan crypto palsu.
Saat ia mencoba menarik investasinya, situs tersebut justru meminta biaya fiktif dan menghilang bersama uangnya.
Modus pig butchering tidak hanya terjadi di satu negara, tetapi berskala global. Biasanya pelaku menggunakan profil palsu dengan foto dan cerita yang tampak menyakinkan.
Hubungan dibangun perlahan selama berminggu atau lebih sebelum membahas uang.
Platform investasi palsu menampilkan keuntungan palsu untuk meyakinkan korban agar menambah dana lebih banyak.
Pig butchering menjadi contoh nyata bagaimana penipuan online dapat memanfaatkan hubungan emosional dan teknologi modern.
Pemahaman yang baik terhadap modus ini adalah kunci untuk menghindari menjadi korban berikutnya.(*)
Editor : Juliana Belence