Batampos - Nama Dwi Sasetyaningtyas mendadak menjadi sorotan dan viral di platform media sosial Threads, setelah unggahan kontroversialnya mengenai perubahan status kewarganegaraan anaknya memicu reaksi luas netizen Indonesia.
Unggahan tersebut kemudian menyebar ke berbagai media sosial dan menjadi perdebatan nasional soal etika, nasionalisme, dan tanggung jawab penerima beasiswa negara.
Viralnya kasus ini bermula dari postingan Threads @sasetyaningtyas yang mengabarkan dua anaknya mendapatkan paspor Inggris. Dalam video itu, salah satu awardee Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) itumengatakan kalimat penutup yang dinilai kontroversial, “cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan.” Pernyataan itu pun mengundang ragam kritik, viral, dan menjadi bulan-bulanan netizen. Hampir semua postingannya diulik, discreenshot, dan dijadikan meme.
Tyas, merupakan alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), beasiswa yang bersumber dari APBN RI dan memiliki kontrak kewajiban kontribusi kepada Indonesia setelah lulus. Banyak warganet yang menilai pernyataannya tidak mencerminkan semangat nasionalisme serta etika publik sebagai awardee.
Drama polemik ini bahkan menyeret nama suaminya, yang juga penerima LPDP. Unggahan viral tersebut membuat publik mempertanyakan apakah keluarga tersebut telah memenuhi kewajiban kontrak pelayanan setelah menempuh pendidikan yang dibiayari negara.
Viralnya pernyataan Tyas ini mendapat ragam respon, bukan hanya dari netizen tapi juga dari Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
" Ya, setelah berkoordinasi dengan Direktur LPDP, keduanya akan diblacklist permanen tidak boleh bekerja di pemerintahan. Dan kami meminta pengembalian dana beasiswa beserta bunganya sebagai konsekuensi atas ketidakpatuhan terhadap aturan LPDP," tegas Purbaya.
Selain itu, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) secara resmi membuat pernyataan, menyesalkan konten tersebut karena dinilai tidak mencerminkan nilai integritas dan etika yang seharusnya dijunjung oleh semua penerima beasiswa negara.
Selain potensi blacklist dan kewajiban pengembalian dana secara personal bagi Tyas dan suaminya, Sejumlah pihak juga turut mengkritisi kebijakan LPDP terkait pemilihan awardee. "Sebaiknya dibuat transfaran saja. Selama inikan kesan LPDP eksklusif. Sebaiknya terbuka dan fokuskan kepada mereka yang kekurangan dana pendidikan tapi pintar dan bisa mengabdi bagi negeri," ujar Nurhalima, salah satu netizen yang mengikuti perkembangan isu viral di Threads. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak