batampos – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia kembali menggenjot percepatan tanam serentak di berbagai daerah sebagai langkah menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim dan potensi musim kering panjang tahun ini.
Gerakan tanam serentak tersebut dilaksanakan di 25 provinsi dengan total lahan mencapai sekitar 50 ribu hektare. Kegiatan dipusatkan di Desa Bojonglegok, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (22/5/2026).
Program itu mencakup lahan Optimalisasi Lahan (Oplah) Tahun 2024 dan 2025 serta lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) Tahun 2025 yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: 4 Bulan 32 Kasus Kekerasan Anak di Tanjungpinang
Beberapa provinsi yang terlibat antara lain Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah hingga Papua dan Papua Barat Daya.
Andi Amran Sulaiman mengatakan percepatan tanam menjadi langkah strategis untuk menjaga produksi pangan nasional agar tetap stabil di tengah tantangan global dan ancaman kekeringan akibat perubahan iklim.
Menurutnya, pemerintah terus memperkuat berbagai langkah mitigasi agar produksi pertanian tidak terganggu saat puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.
Selain mempercepat masa tanam, pemerintah juga meminta daerah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan, pendataan sumber air, hingga optimalisasi indeks pertanaman.
Langkah antisipasi lain dilakukan melalui pompanisasi, optimalisasi lahan rawa, penggunaan benih tahan kekeringan, serta pembangunan sarana pendukung seperti embung, long storage, dan sumur bor.
Baca Juga: Perang Iran Picu Krisis Tinta, Snack Calbee di Jepang Berkemasan Monokrom
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menilai keberhasilan percepatan tanam sangat bergantung pada pengawalan penyuluh pertanian bersama petani di lapangan.
“Penyuluh bersama petani menjadi ujung tombak untuk memastikan lahan yang siap dapat segera ditanami sehingga produktivitas tetap terjaga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, gerakan tanam serentak kali ini merupakan pelaksanaan keenam yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan indeks pertanaman di berbagai daerah.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi pertanian modern seperti rice transplanter dan drone pertanian juga terus didorong guna mempercepat proses tanam sekaligus meningkatkan efisiensi kerja petani.
Pemerintah berharap gerakan tersebut tidak hanya memperkuat produksi pangan nasional, tetapi juga menjadi bagian dari modernisasi sektor pertanian dan mendorong keterlibatan generasi muda dalam pembangunan pertanian Indonesia.
Baca Juga: Emily in Paris Tamat di Season 6, Netflix Siapkan Akhir Kisah Penuh Emosi
Pelaksanaan kegiatan melibatkan berbagai pihak mulai dari Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, pemerintah daerah, penyuluh pertanian hingga kelompok tani di daerah pelaksanaan. (*)
Editor : M Tahang