batampos – Upaya pelestarian penyu di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Berau kini diperkuat dengan pemanfaatan teknologi pesawat nirawak atau drone. Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) memanfaatkan survei udara untuk memantau populasi penyu secara lebih akurat dan efisien.
Kegiatan tersebut turut melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur serta kelompok masyarakat pegiat konservasi di kawasan Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS).
Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak-KKP, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, mengatakan penggunaan teknologi pesawat nirawak mampu memperluas jangkauan pemantauan habitat penyu, termasuk area-area yang sulit dijangkau secara langsung.
“Pemanfaatan teknologi pesawat nirawak membantu menghasilkan data yang lebih akurat dan efisien untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi,” ujar Syarif Iwan di Berau, Minggu.
Menurutnya, dukungan teknologi membuat pemantauan populasi dan habitat penyu dapat dilakukan secara lebih detail. Data yang diperoleh juga menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan berbasis ilmiah untuk pengelolaan kawasan konservasi.
Baca Juga: Weekend di Batam Makin Seru, 5 Rekomendasi Tempat Nongkrong Hari Minggu
Melalui survei udara tersebut, tim berhasil memetakan habitat penyu di 12 lokasi berbeda. Citra udara beresolusi tinggi memungkinkan peneliti mengidentifikasi keberadaan penyu secara visual di perairan dangkal, padang lamun, hingga area terumbu karang.
“Dalam survei udara, tim berhasil mengidentifikasi hingga 913 individu penyu di perairan pesisir wilayah KKP3K KDPS,” katanya.
Citra udara yang dihasilkan memiliki tingkat ketelitian tinggi dengan resolusi spasial berkisar 1,5 hingga 5 sentimeter. Dengan kualitas tersebut, penyu dapat dibedakan secara akurat dari objek lain di laut.
Sementara itu, Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN, Yusuf Fajariyanto, menilai keterlibatan masyarakat pesisir dan pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting dalam keberhasilan konservasi penyu di Berau.
Menurutnya, pelestarian penyu tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah maupun lembaga konservasi semata. Peran masyarakat yang hidup berdampingan dengan habitat penyu juga sangat menentukan.
“Pemanfaatan teknologi pesawat nirawak beresolusi tinggi membantu memperoleh data sebaran penyu secara lebih cepat dan akurat di kawasan pesisir yang luas,” ujarnya.
Yusuf menambahkan, temuan 913 individu penyu di kawasan konservasi Kepulauan Derawan menunjukkan wilayah tersebut masih menjadi habitat penting yang harus terus dijaga bersama.
“Temuan sebanyak 913 individu penyu di KKP3K KDPS tersebut memperlihatkan bahwa wilayah ini merupakan habitat penting yang perlu terus dijaga bersama,” tutupnya. (*)
Editor : Putut Ariyo