Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Menag Ajak Umat Beragama Kendalikan Ego demi Wujudkan Perdamaian Dunia

jpg • Senin, 1 Juni 2026 | 06:32 WIB
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menghadiri perayaan Waisak di Wihara Ekayana Arama Indonesia Buddhist Centre, Duri Kepa, Jakarta Barat, Minggu (31/5). (Istimewa)
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menghadiri perayaan Waisak di Wihara Ekayana Arama Indonesia Buddhist Centre, Duri Kepa, Jakarta Barat, Minggu (31/5). (Istimewa)

batampos – Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengajak seluruh umat beragama untuk menjadikan momentum Hari Tri Suci Waisak 2570 Tahun Buddhis sebagai sarana memperkuat nilai-nilai kedamaian dan pengendalian diri. Menurutnya, berbagai konflik yang terjadi di dunia berakar dari ego manusia yang tidak terkendali.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat menghadiri perayaan Waisak di Wihara Ekayana Arama Indonesia Buddhist Centre, Duri Kepa, Jakarta Barat, Minggu (31/5).

Menurut Menag, agama memiliki peran penting dalam membentuk karakter manusia agar mampu mengendalikan ego, sehingga tercipta kehidupan yang harmonis, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun antarbangsa.

“Kalau kita berhasil menjinakkan ego kita, bukan saja persoalan pribadi dan keluarga yang selesai, tetapi juga persoalan kemasyarakatan, kebangsaan, kenegaraan, bahkan dunia,” ujar Nasaruddin.

Ia menilai pengendalian ego merupakan kunci utama dalam membangun perdamaian yang berkelanjutan di tengah berbagai tantangan global saat ini.

Perayaan Waisak di Wihara Ekayana Arama berlangsung khidmat dan dihadiri sekitar 9.500 umat Buddha bersama 28 biksu dan biksuni dari Sangha Agung Indonesia. Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi pindapata dan puja bakti Waisak yang berlangsung penuh kekhusyukan.

Pada kesempatan yang sama, Bhante Nyana Gupta menegaskan bahwa Waisak bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum untuk mengimplementasikan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, nilai cinta kasih menjadi salah satu ajaran utama yang dapat memperkuat perdamaian dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kita menekankan pentingnya cinta kasih sebagai salah satu aspek praktik umat Buddha yang dapat membawa perdamaian. Kehadiran Buddha hendaknya juga hadir dalam diri setiap orang,” kata Bhante Nyana Gupta.

Ia menjelaskan, rangkaian perayaan Waisak tahun ini berlangsung hampir selama satu bulan melalui berbagai kegiatan sosial, pendalaman Dharma, hingga program yang melibatkan generasi muda.

Bhante Nyana Gupta mengungkapkan bahwa konsep perayaan yang berlangsung selama sebulan tersebut terinspirasi dari tradisi Ramadan yang dijalankan umat Islam.

“Kita terinspirasi oleh teman-teman Muslim. Karena itu, kegiatan Waisak tidak hanya terpusat pada satu hari, tetapi juga diisi dengan berbagai kegiatan pendalaman Dharma, aksi sosial, dan kegiatan anak muda,” ujarnya.

Tahun ini, perayaan Waisak mengusung tema “Menebar Cinta, Menumbuhkan Perdamaian Dunia” dengan subtema “Waisak Ingatkan Kita Cara Melepas Ego”.

Tema tersebut diharapkan dapat memperkuat semangat toleransi, persaudaraan, serta harmoni antarumat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)

Editor : Jamil Qasim
#Kendalikan Ego #Waisak 2570 Tahun Buddhis