batampos – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dukungan terhadap sejumlah tokoh untuk memimpin organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu mulai bermunculan. Tokoh muda NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Menteri Agama, Nasaruddin Umar, untuk menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Selain itu, Gus Lilur juga mendorong mantan Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, untuk menempati posisi Rais Aam pada kepengurusan mendatang.
Menurut Gus Lilur, Muktamar NU ke-35 harus menjadi momentum untuk mengembalikan arah perjuangan organisasi dan bukan sekadar ajang perebutan kekuasaan.
Baca Juga: Kejagung Tetapkan Ketua Yayasan Indonesia Food Security Review sebagai Tersangka Baru Korupsi MBG
"Muktamar ke-34 Lampung harus menjadi pelajaran. Salah memilih pemimpin, dampaknya bisa sangat besar terhadap organisasi," kata Gus Lilur, Kamis (18/6).
Ia menilai NU memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan bangsa di tengah berbagai tantangan nasional maupun global. Dengan jumlah warga nahdliyin yang sangat besar, setiap keputusan yang diambil dalam muktamar dinilai akan berpengaruh terhadap kehidupan kebangsaan.
Menurutnya, semangat para pendiri bangsa yang mengutamakan persatuan harus menjadi pedoman para peserta muktamar dalam menentukan kepemimpinan NU ke depan.
Baca Juga: Ombudsman Dorong Penambahan Autogate di Pelabuhan Batam Centre
Gus Lilur juga menilai pemimpin NU mendatang perlu memiliki komitmen menjaga stabilitas nasional dan mendukung keberlanjutan pembangunan bangsa. Dalam konteks tersebut, ia menyebut pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah berhasil meredam polarisasi politik yang sebelumnya terjadi di masyarakat.
Atas dasar itu, ia menyatakan dukungannya kepada Nasaruddin Umar sebagai calon Ketua Umum PBNU dan Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam.
Menurutnya, kedua tokoh tersebut memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, dan reputasi yang dapat memperkuat posisi NU baik di tingkat nasional maupun internasional.
"Keduanya adalah ulama dan cendekiawan yang memiliki kapasitas untuk membawa NU semakin berpengaruh di tingkat global," ujarnya.
Gus Lilur juga mengingatkan agar peserta muktamar tidak hanya mempertimbangkan faktor popularitas atau kedekatan politik dalam menentukan pilihan. Ia berharap para kiai dan ulama yang memiliki hak suara mengedepankan integritas, kapasitas keulamaan, serta kepentingan umat dan organisasi.
"Masa depan NU dipertaruhkan dalam muktamar ini. Karena itu, pilihan kepemimpinan harus didasarkan pada kepentingan umat dan organisasi, bukan kepentingan kelompok tertentu," katanya.
Muktamar NU ke-35 diperkirakan akan menjadi salah satu agenda penting organisasi dalam menentukan arah kepemimpinan dan peran NU di tengah dinamika sosial, politik, dan keagamaan Indonesia pada masa mendatang.
Alternatif judul:
-
Gus Lilur Usulkan Nasaruddin Umar Pimpin PBNU, Said Aqil Jadi Rais Aam
-
Jelang Muktamar NU ke-35, Dukungan untuk Nasaruddin Umar Menguat
-
Gus Lilur: Muktamar NU Harus Jadi Momentum Kembali ke Jalan Ulama
-
Nasaruddin Umar dan Said Aqil Didorong Pimpin PBNU Periode Mendatang