Erupsi Gunung Anak Krakatau Meningkat, Radius 3 Kilometer Terlarang

jpg • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 19:01 WIB
PVMBG merekam aktivitas erupsi berupa lontaran abu setinggi 1,5 kilometer yang keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau di Lampung, beberapa waktu lalu.
PVMBG merekam aktivitas erupsi berupa lontaran abu setinggi 1,5 kilometer yang keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau di Lampung, beberapa waktu lalu.

batampos — Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda meningkat signifikan. Gunung api tersebut mengalami erupsi selama berjam-jam sejak Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dan memuntahkan lava pijar.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang berada di wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan masyarakat perlu tetap waspada tanpa panik. Dia juga meminta warga tidak mudah mempercayai informasi yang tidak bersumber dari pihak berwenang, khususnya terkait isu tsunami.

“Namun tetap perlu mengikuti perkembangan informasi resmi,” kata Berton kepada awak media, Sabtu (5/9).

BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Berton menyampaikan tiga hal utama yang perlu menjadi perhatian. Pertama, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Pemerintah daerah bersama unsur terkait diminta memastikan tidak ada warga maupun wisatawan yang berada di dalam radius bahaya.

“Pengawasan dan patroli di kawasan tersebut perlu terus diperkuat untuk mencegah masyarakat memasuki zona terlarang,” ujarnya.

Kedua, kesiapsiagaan harus ditingkatkan. Pemerintah daerah dan BPBD diminta memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi, serta kebutuhan dasar masyarakat siap digunakan apabila terjadi peningkatan aktivitas yang membutuhkan evakuasi.

Ketiga, masyarakat diminta mematuhi seluruh arahan petugas di lapangan. Warga juga dilarang mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau hanya untuk melihat maupun mengabadikan aktivitas erupsi.

“BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. PVMBG juga akan melakukan evaluasi secara berkala maupun sewaktu-waktu apabila terdapat perubahan signifikan pada aktivitas maupun morfologi gunungapi,” jelas Berton.

Sebelumnya, Kepala Badan Geologi Lana Saria menyampaikan bahwa potensi bahaya dari erupsi yang terjadi pada pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB antara lain aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar.

Karena itu, Badan Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi bagi masyarakat dan wisatawan.

“Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau,” kata Lana.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

Sementara itu, warga di wilayah pantai Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan dapat beraktivitas seperti biasa dengan mengikuti arahan BPBD setempat.

Masyarakat juga diimbau terus memantau informasi resmi dari PVMBG yang berada di bawah Badan Geologi serta Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau. (*)

Editor : Jamil Qasim
Erupsi Gunung Anak Krakatau