PISA 2025: Skor Sains dan Membaca Naik, 83,07 Persen Siswa Belum Kuasai Matematika

JawaPos • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 22:15 WIB
Ilustrasi anak sekolah. (JawaPos)
Ilustrasi anak sekolah. (JawaPos)

batampos – Kemampuan matematika masih menjadi pekerjaan rumah terbesar dalam pendidikan Indonesia. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan, mayoritas siswa Indonesia belum mencapai kompetensi dasar matematika.

Dalam survei yang digelar Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) tersebut, sebanyak 83,07 persen siswa Indonesia belum mencapai Level 2 atau kompetensi dasar matematika.

Skor matematika Indonesia juga turun dua poin dibandingkan PISA 2022, dari 366 menjadi 364.

Sebaliknya, capaian Indonesia pada dua bidang lainnya mengalami peningkatan. Skor sains naik enam poin menjadi 389, sedangkan skor membaca meningkat tujuh poin menjadi 365.

Meski skor sains dan membaca membaik, capaian Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD. Rata-rata skor OECD mencapai 482 untuk sains, 461 untuk membaca, dan 463 untuk matematika.

Dari sisi peringkat, Indonesia berada di posisi 73 untuk sains, 74 untuk membaca, dan 78 untuk matematika dari 90–91 negara peserta.

Peringkat tersebut turun dibandingkan PISA 2022 karena sejumlah negara lain mencatat peningkatan yang lebih cepat.

Mayoritas Siswa Belum Capai Kompetensi Dasar
Persoalan kemampuan dasar tidak hanya terlihat pada matematika. Sebanyak 63,2 persen siswa Indonesia belum mencapai Level 2 dalam sains.

Sementara itu, pada bidang membaca, proporsinya mencapai 72,89 persen.

Di sisi lain, siswa yang mampu mencapai Level 5 atau 6, yang masuk kategori berprestasi tinggi, jumlahnya nyaris nol persen pada ketiga bidang tersebut.

Anggota Badan Standar dan Akreditasi Nasional Pendidikan (BSANP) Achmad Rizali mengatakan hasil PISA 2025 tetap memberikan harapan. Menurut dia, kenaikan skor membaca dan sains menunjukkan sejumlah upaya di bidang pendidikan mulai memberikan dampak.

“Meski naiknya hanya tipis dan ada yang turun, masih ada harapan. Beberapa ikhtiar dari kementerian yang berdampak positif harus terus digenjot,” kata Achmad.

Namun, Achmad mengingatkan kenaikan skor tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya tren perbaikan dalam jangka panjang.

Terlebih, tantangan pendidikan Indonesia masih besar, terutama dalam meningkatkan kemampuan matematika yang berkaitan erat dengan kemampuan bernalar siswa.

Menurut Achmad, kemampuan bernalar sebenarnya sudah masuk dalam standar capaian pendidikan. Persoalannya, penerapan di ruang kelas masih terkendala kemampuan guru dalam mempraktikkan pembelajaran yang mendorong penalaran.

Target PISA 2029 Jadi Tantangan
Target PISA 2029 membuat pekerjaan rumah tersebut semakin berat. Skor matematika Indonesia ditargetkan mencapai 409 poin.

Dengan capaian 364 poin pada PISA 2025, Indonesia masih harus mengejar selisih 45 poin.

“Untuk sains sekitar 35 dan membaca 37 poin. Bisakah rata-rata hanya naik 6 poin mencapai target itu? Sangat berat karena PISA 2029 akan diuji di 2027,” ujar Achmad.

Karena itu, Achmad menilai pemerintah perlu melakukan pembenahan secara lebih terarah. Ia mengusulkan tiga langkah strategis untuk memperkuat fondasi pembelajaran.

Pertama, pemerintah perlu menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Mutu SD/MI yang berfokus pada penguatan sains, matematika, dan membaca.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat menggerakkan berbagai sumber daya pemerintah dalam satu agenda yang sama.

“Inpres ini akan menghela semua sumber daya ke satu fokus pekerjaan seperti Inpres Penurunan Stunting yang sukses menurunkan rata-rata 2 persen setahun padahal awalnya dianggap ajaib,” paparnya.

Kedua, program kementerian seperti Gerakan Nasional Numerasi (GNN) dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) perlu dieksekusi hingga menyentuh proses pembelajaran di kelas.

Menurut Achmad, program tersebut perlu dikelola sebagai gerakan nasional yang terintegrasi.

Ketiga, pemerintah perlu mengevaluasi mutu guru lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

Kurikulum Pendidikan Profesi Guru (PPG), khususnya untuk PGSD, juga perlu dievaluasi.

Achmad turut menyoroti pentingnya Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang berjalan selaras dengan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME) atau akreditasi.

“Ketika skor PISA tidak membaik, artinya ada yang tidak mematuhi pelaksanaan SNP, semisal standar proses dan isi. Atau justru SNP-nya sendiri yang harus dievaluasi karena tidak mendorong perbaikan skor PISA,” terang Achmad.

Kemendikdasmen Soroti Perluasan Akses Pendidikan
Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menilai hasil PISA 2025 juga menunjukkan kemajuan dalam perluasan akses pendidikan.

Hal tersebut terlihat dari Coverage Index, yakni proporsi siswa usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal.

Pada PISA 2003, Coverage Index Indonesia berada di angka 0,46. Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat menjadi 0,90 pada PISA 2025.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan capaian Indonesia perlu dilihat dalam konteks tren pendidikan global.

Selama 25 tahun terakhir, skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD cenderung menurun.

“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains,” kata Toni seperti dikutip dari situs Kemendikdasmen.

Kemendikdasmen telah menyiapkan empat pilar pembenahan. Di antaranya peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan berbasis eksperimen, penguatan profesionalisme PPG, serta penguasaan koding dan kecerdasan artifisial.

Meski terdapat peningkatan pada skor sains dan membaca, hasil PISA 2025 menunjukkan kemampuan dasar masih menjadi pekerjaan rumah terbesar pendidikan Indonesia.

Khusus matematika, 83,07 persen siswa belum mencapai kompetensi dasar. Kondisi tersebut menunjukkan penguatan numerasi dan kemampuan bernalar masih menjadi agenda mendesak yang perlu mendapat perhatian.(*)

Editor : Cipi Ckandina
matematika Skor Sains Membaca Naik Siswa Belum Kuasai