Kabut Asap Karhutla Berbahaya bagi Anak, Simak Langkah Pencegahannya

JawaPos • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 19:10 WIB
Kabut asap dampak karhutla menyelimuti sekolah dasar di Kabupaten Kotawaringin timur, Kalimantan Tengah.(jawapos)
Kabut asap dampak karhutla menyelimuti sekolah dasar di Kabupaten Kotawaringin timur, Kalimantan Tengah.(jawapos)

batampos – Anak-anak lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan orang dewasa. Karena itu, orang tua perlu melakukan berbagai langkah pencegahan untuk mengurangi risiko paparan asap dan polusi udara terhadap anak.

Dokter dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Vivi Sofia, Sp.A(K), menjelaskan bahwa karakteristik sistem pernapasan anak membuat mereka lebih rentan terhadap paparan polusi udara.

Menurut Vivi, frekuensi napas anak cenderung lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Pada bayi, frekuensi napas dapat mencapai 60 kali per menit, sedangkan pada anak usia 2 bulan hingga 1 tahun mencapai 50 kali per menit dan anak usia 1–5 tahun hingga 40 kali per menit.

“Jadi kita lihat ini akan lebih sering dia bernapas dan sistem imunnya masih berkembang sehingga pernapasan ini akan lebih banyak yang terhirup ke dalam saluran pernapasan,” jelasnya kepada wartawan, Senin (19/10).

Risiko gangguan kesehatan yang lebih berat juga perlu diwaspadai pada anak dengan kondisi medis tertentu. Anak dengan penyakit jantung bawaan, gangguan paru-paru, maupun penyakit kronis lainnya membutuhkan perhatian lebih saat kualitas udara memburuk akibat karhutla.

Vivi menjelaskan, paparan polutan dapat menimbulkan dampak lebih berbahaya bagi kelompok anak tersebut. Karena itu, orang tua perlu mengambil langkah perlindungan sejak kualitas udara mulai memburuk.

Pantau Kualitas Udara dan Siapkan Ruang Bersih

Langkah pertama yang disarankan adalah memantau kualitas udara di lingkungan tempat tinggal secara rutin. Orang tua dapat memeriksa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau Air Quality Index (AQI) melalui sumber informasi tepercaya untuk mengetahui tingkat pencemaran udara.

Keluarga juga disarankan menyiapkan setidaknya satu ruang bersih di dalam rumah untuk mengurangi paparan asap. Saat kabut asap menyelimuti lingkungan, pintu dan jendela sebaiknya ditutup agar asap dari luar tidak mudah masuk.

Jika tersedia, orang tua dapat menggunakan alat pembersih udara portabel atau air purifier. Penggunaan pendingin ruangan (AC) juga perlu diperhatikan agar tidak memasukkan udara dari luar. Vivi menyarankan pengaturan AC menggunakan mode sirkulasi ulang atau air recirculation.

“Kalau misalnya memang kabut asap di atas kadar ISPU ataupun Air Quality Index di atas 50, artinya anak tetap di dalam rumah, pintu jendela tertutup,” sarannya.

Selain itu, orang tua perlu menjaga udara di dalam rumah tetap bersih dengan menghindari aktivitas yang menghasilkan asap atau partikel tambahan. Beberapa di antaranya merokok di dalam rumah, menggunakan kompor kayu bakar, menyalakan lilin, dan memakai semprotan aerosol.

Aktivitas memasak yang menghasilkan banyak asap juga sebaiknya dibatasi. Penggunaan penyedot debu yang dapat membuat partikel kembali beterbangan di dalam ruangan perlu diperhatikan.

Batasi Aktivitas Anak di Luar Ruangan

Ketika kualitas udara memburuk atau lingkungan tercium bau asap, orang tua disarankan membatasi aktivitas fisik berat anak di luar ruangan. Kegiatan bermain dan olahraga sebaiknya ditunda hingga kondisi udara membaik.

Jika anak terpaksa harus keluar rumah, orang tua perlu menyesuaikan perlindungan dengan kondisi pencemaran udara. Pakaian tertutup dan kacamata dapat membantu mengurangi paparan pada bagian tubuh tertentu. Penggunaan masker perlu disesuaikan dengan usia anak, kecocokan masker, dan tingkat pencemaran udara.

Vivi secara khusus mengingatkan bahwa anak berusia di bawah dua tahun sulit menggunakan masker dengan aman dan konsisten. Karena itu, anak dalam kelompok usia tersebut sebaiknya tetap berada di dalam rumah ketika kualitas udara memburuk.

“Anak-anak di bawah 2 tahun sangat sulit menggunakan masker, sehingga anak-anak kita upayakan tetap berada di dalam rumah,” katanya.

Siapkan Obat untuk Anak dengan Penyakit Kronis

Anak yang memiliki riwayat asma, alergi, atau penyakit kronis lainnya membutuhkan perhatian khusus selama bencana karhutla. Orang tua perlu memastikan obat rutin dan obat yang diresepkan dokter tersedia di rumah agar penanganan dapat dilakukan sesuai anjuran medis.

Bagi anak dengan asma, misalnya, obat pereda yang diresepkan dokter perlu disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan memburuknya gejala akibat paparan asap.

Selain melakukan pencegahan, orang tua juga perlu mengenali tanda gangguan kesehatan yang membutuhkan pertolongan medis. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain gangguan pernapasan, sesak napas, berkurangnya keinginan untuk makan dan minum, serta kondisi anak yang tampak sangat mengantuk atau mengalami penurunan kesadaran.

“Apabila anak-anak terdapat gangguan pernapasan, sesak napas, kemudian anaknya sudah mulai malas makan, malas minum, apalagi anaknya kondisinya sering mengantuk atau seperti mulai tidak sadar, harus segera membawa ke dokter ataupun ke rumah sakit untuk segera mendapatkan bantuan medis,” tegas Vivi.

Ia mengingatkan orang tua agar tidak menunda pemeriksaan jika anak menunjukkan gejala tersebut. Anak perlu segera dibawa ke dokter, rumah sakit, atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Melalui pemantauan kualitas udara, pembatasan aktivitas di luar ruangan, serta kesiapan menghadapi gangguan kesehatan, orang tua dapat membantu mengurangi risiko dampak kabut asap karhutla terhadap anak.(*)

Editor : Cipi Ckandina
anak kabut Pencegahannya asap karhutla