Cara Membaca Hasil TKA SMA dengan Skala Skor 200–800

JawaPos • Dipublikasikan Senin, 26 Oktober 2026 | 17:15 WIB
Ilustrasi tes kemampuan akademik. (Antara)
Ilustrasi tes kemampuan akademik. (Antara)

batampos – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggunakan skala skor 200–800 dalam pelaporan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMA/MA/SMK dan sederajat.

Penggunaan skala tersebut bertujuan menyajikan hasil pengukuran kemampuan akademik murid secara lebih informatif. Skor yang diperoleh peserta bukan merupakan persentase jawaban benar, melainkan hasil pengukuran yang mempertimbangkan karakteristik soal.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Toni Toharudin, menjelaskan bahwa skala skor tersebut dirancang agar hasil TKA dapat memberikan gambaran kemampuan akademik murid secara lebih akurat.

Hasil TKA diharapkan dapat membantu murid memahami capaian akademiknya, mendorong sekolah meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memberikan informasi pendukung bagi perguruan tinggi sesuai ketentuan yang berlaku.

Toni mencontohkan, dalam tes yang terdiri atas 10 soal dengan bobot sama, peserta yang menjawab delapan soal dengan benar akan memperoleh nilai 80 jika penilaiannya menggunakan persentase jawaban benar.

Namun, hasil tersebut belum tentu menggambarkan kemampuan yang setara apabila dua murid mengerjakan paket soal dengan tingkat kesulitan berbeda, meskipun jumlah jawaban benar mereka sama.

"Namun, jika dua murid mengerjakan paket soal dengan tingkat kesulitan berbeda, jumlah jawaban benar yang sama belum tentu menggambarkan kemampuan yang sebanding," jelas Toni, Senin (26/10).

Oleh karena itu, TKA menggunakan pendekatan Item Response Theory (IRT) atau teori respons butir. Dalam model dua parameter, pengolahan jawaban mempertimbangkan tingkat kesukaran dan daya pembeda soal untuk memperkirakan kemampuan akademik murid.

"Hasil pengukuran tersebut kemudian disajikan dalam rentang skor 200–800," ucapnya.

Toni menjelaskan, metode pengukuran dan skala pelaporan merupakan dua hal yang berbeda. Metode pengukuran berkaitan dengan cara memperkirakan kemampuan peserta, sedangkan skala pelaporan menentukan bagaimana hasil pengukuran tersebut ditampilkan.

Dengan demikian, skor 600 tidak berarti peserta menjawab benar 60 persen dari seluruh soal. Perubahan skala pelaporan juga tidak serta-merta menunjukkan bahwa soal menjadi lebih sulit atau kemampuan murid meningkat.

Skor pada skala baru pun tidak dapat langsung dikonversi ke skala lama melalui pembagian atau perkalian sederhana.

Penyetaraan hasil antartahun dilakukan melalui estimasi kemampuan peserta menggunakan pendekatan IRT dua parameter. Langkah ini bertujuan membantu menjaga keterbandingan hasil pengukuran dari waktu ke waktu.

Meski demikian, selisih skor yang relatif kecil perlu dimaknai secara hati-hati dengan mempertimbangkan galat pengukuran.

Di satuan pendidikan, hasil TKA dapat digunakan bersama hasil penilaian kelas dan pekerjaan murid untuk mengidentifikasi kebutuhan pendampingan belajar. Orang tua juga dapat memanfaatkan hasil tersebut untuk memahami kesulitan yang dihadapi anak dan memberikan dukungan yang sesuai.

Bagi perguruan tinggi, hasil TKA menyediakan informasi capaian akademik melalui asesmen terstandar. Informasi ini dapat melengkapi nilai rapor dalam proses seleksi melalui jalur prestasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Kedua hasil penilaian tersebut dapat dipertimbangkan secara bersamaan untuk memberikan gambaran akademik calon mahasiswa yang lebih menyeluruh.

Selain itu, hasil TKA berpotensi menjadi dasar penyusunan program persiapan dan pendampingan akademik bagi mahasiswa baru. Pemanfaatannya perlu dievaluasi dengan melihat keterkaitannya terhadap perkembangan belajar mahasiswa.

Pembaruan skala pelaporan TKA juga perlu disertai upaya menjaga mutu soal, keamanan pelaksanaan, aksesibilitas, serta kejelasan informasi hasil agar dapat dipahami oleh murid, orang tua, sekolah, dan perguruan tinggi.(*)

Editor : Cipi Ckandina
Skor Sains tka sma membaca buku