Harga Beras Naik, Pemerintah Percepat Penyaluran SPHP dan Bantuan Pangan

JawaPos • Dipublikasikan Jumat, 6 November 2026 | 19:00 WIB
Warga menerima bantuan pangan pemerintah. (Ist)
Warga menerima bantuan pangan pemerintah. (Ist)

batampos – Pemerintah mempercepat penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan beras untuk meredam kenaikan harga di pasaran. Langkah ini dilakukan menyusul kenaikan harga beras premium dan medium di Zona 2 dan Zona 3.

Permintaan tersebut disampaikan Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Hermawan, kepada pemerintah daerah dan Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri di 38 provinsi.

Dalam rapat koordinasi bersama pemerintah daerah dan Satgas Pangan Polri se-Indonesia di Jakarta, Hermawan meminta seluruh daerah bergerak bersama Perum Bulog untuk mempercepat distribusi beras SPHP dan bantuan pangan.

"Harga beras premium dan medium di Zona 2 dan Zona 3 semuanya naik, sedangkan di Zona 1 cenderung aman. Karena itu, saya meminta rekan-rekan di daerah untuk mengantisipasinya," kata Hermawan, Jumat (6/11).

Stok Bulog Diproyeksikan 4 Juta Ton

Pemerintah mengandalkan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog untuk melakukan intervensi pasar. Stok tersebut diproyeksikan tetap berada di atas 3 juta ton hingga akhir 2026.

"Stok Bulog sampai akhir tahun kemungkinan besar bisa 3,8 juta ton, bahkan 4 juta ton. Beras itu sekarang terus mengalir, baik untuk SPHP maupun bantuan pangan. Karena itu, segera percepat penyaluran SPHP dan bantuan pangan yang sudah ditugaskan ke Bulog," ujar Hermawan.

Menurutnya, percepatan distribusi dapat membantu menekan harga beras di pasaran. Sebab, ketika beras SPHP dan bantuan pangan diterima masyarakat, kebutuhan rumah tangga untuk satu hingga dua pekan ke depan dapat terpenuhi.

Dengan demikian, tekanan permintaan beras di pasar diharapkan berkurang sehingga harga lebih terkendali.

"Karena belanja berkurang, otomatis harga pasti turun berkat masifnya beras SPHP dan bantuan pangan. Jadi tolong pemerintah daerah mengecek dan memastikan penyalurannya segera sampai ke masyarakat dan ke pasar-pasar," tegasnya.

Untuk menjaga stabilitas harga, Bapanas juga memberikan penugasan tambahan kepada Bulog dalam program SPHP beras.

Penugasan pertama dengan target penyaluran 828 ribu ton sejak Maret telah direalisasikan 100 persen oleh Bulog hingga minggu keempat September.

Sementara itu, penugasan tambahan SPHP yang diterbitkan Bapanas pada akhir September dan pertengahan Oktober mencapai total 200 ribu ton. Hingga 5 November, realisasinya telah mencapai 155,3 ribu ton atau 77,6 persen.

Selain SPHP, pemerintah juga menyiapkan penyaluran bantuan pangan beras untuk periode Oktober-Desember. Bulog ditargetkan mulai menyalurkan bantuan tersebut pada November ini.

Sebelumnya, pemerintah telah memutuskan untuk kembali menjalankan program bantuan pangan beras pada triwulan terakhir 2026.

Stok Beras Diklaim Tertinggi Sepanjang Sejarah

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menyatakan stok pangan nasional masih aman. Pemerintah, kata dia, terus berupaya membantu masyarakat, terutama kelompok yang membutuhkan.

"Beras harus terus dijaga kestabilannya. Kondisi global saat ini siaga waspada, namun Indonesia insya Allah aman. Pangan kita kuat, apalagi stok beras tertinggi sepanjang sejarah. Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, salurkan stok untuk kepentingan masyarakat melalui SPHP, bantuan pangan, dan program lainnya," kata Amran.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan beras tidak memberikan andil signifikan terhadap inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) pada Oktober 2026.

Inflasi pangan bulanan tercatat melandai menjadi 0,77 persen, dari sebelumnya 1,46 persen pada September.

Adapun inflasi beras bulanan pada Oktober tercatat 0,08 persen. Angka tersebut turun dibandingkan September yang mencapai 0,80 persen dan menjadi angka tertinggi sepanjang 2026.

Sebelumnya, inflasi beras tertinggi tercatat pada Maret sebesar 0,65 persen, bertepatan dengan puncak Ramadan dan Idulfitri.

Berdasarkan pemantauan Bapanas per 5 November, rata-rata harga beras premium secara nasional mencapai Rp 16.214 per kilogram (kg), sedangkan beras medium Rp 13.715 per kg. Angka tersebut merupakan nilai tengah harga dari tiga zonasi.

Secara bulanan, rata-rata harga beras premium mengalami fluktuasi kenaikan 0,09 persen. Sementara harga beras medium justru turun 0,08 persen.

Dari sisi produksi, angka tetap Badan Pusat Statistik melalui Kerangka Sampel Area (KSA) mencatat produksi beras Januari-Agustus 2026 mencapai 25,28 juta ton.

Jumlah tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 25,26 juta ton atau tumbuh sekitar 0,07 persen.

Pemerintah pun terus mendorong petani meningkatkan produktivitas guna menjaga ketersediaan beras nasional dan stabilitas harga pangan.(*)

Editor : Cipi Ckandina
SPHP pemerintah pangan beras